Beras Premium Indonesia Dihargai 3,9 Ringgit, Pengiriman Awal ke Malaysia Dimulai

Beras premium Indonesia dengan tingkat pecah 5 persen disepakati dijual seharga 3,9 ringgit Malaysia per kilogram untuk pasar Malaysia. Pengiriman awal sebanyak 1.000 ton akan dilakukan secara bertahap pada pekan ini.

Kesepakatan itu menandai pembukaan jalur perdagangan beras Indonesia ke Sarawak. Wilayah tersebut memiliki kebutuhan yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun.

Pengiriman perdana akan melewati perbatasan Entikong di Kalimantan Barat. Pemerintah memilih jalur tersebut sebagai pintu pertama bagi pasokan beras Indonesia menuju Sarawak.

Nilai pasar Sarawak berpotensi mencapai sekitar Rp3,39 triliun apabila Indonesia mampu memasok seluruh kebutuhan beras wilayah itu. Namun, volume 1.000 ton masih merupakan tahap pengenalan produk sebelum rencana perdagangan dikembangkan lebih lanjut.

Rincian Kesepakatan Awal

AspekNilaiKeterangan
Volume awal1.000 tonPengiriman bertahap
Harga beras3,9 ringgit Malaysia per kilogramBeras premium
Tingkat pecah5 persenMutu produk yang dikirim
Potensi nilai SarawakRp3,39 triliunJika seluruh kebutuhan dipasok Indonesia

Kesepakatan tersebut tercapai setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berkomunikasi dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia Datuk Seri Mohamad Sabu. Pemerintah melihat peluang ini sebagai akses awal menuju pasar ekspor yang lebih luas.

Amran mengatakan kesepakatan tersebut sudah masuk tahap nyata, bukan sekadar rencana. “Bukan rencana, ini sudah. Ini kita sepakat ini potensi yang kita garap,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Selatan pada Jumat (14/8).

Target pemerintah dalam waktu dekat adalah memberangkatkan seluruh pesanan awal pada minggu yang sama. Setelah itu, perkembangan permintaan dan kelancaran distribusi akan menjadi bahan penilaian untuk pengiriman selanjutnya.

Permintaan Malaysia Lebih Besar

Sarawak menjadi pasar yang pertama dibidik, tetapi kebutuhan beras Malaysia secara keseluruhan disebut mencapai 1,5 juta hingga 1,7 juta ton per tahun. Besarnya kebutuhan itu membuka potensi perdagangan, meski pemerintah belum menjadikan angka tersebut sebagai kepastian volume ekspor.

Jumaat bin Ibrahim selaku General Manager Padi dan Borneo Sdn Bhd menyebut beras Indonesia ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Sarawak selama satu tahun. Pesanan awal 1.000 ton dipakai untuk memperkenalkan beras Indonesia di Sarawak dan Malaysia.

Pemerintah juga menjajaki pengiriman ke Singapura setelah menawarkan sedikitnya 10 ribu ton beras. Sejumlah negara lain disebut telah menunjukkan ketertarikan terhadap pasokan dari Indonesia.

Amran menyebut target ekspor beras dapat mencapai 1 juta ton. Akan tetapi, realisasinya tetap akan mengikuti perkembangan produksi dan kondisi cuaca, termasuk kemungkinan risiko El Nino.

Cadangan Nasional Menjadi Penentu

Pemerintah menegaskan ekspor tidak boleh mengganggu kebutuhan masyarakat di dalam negeri. Perhitungan pasokan dilakukan dengan mengacu pada data BPS serta cadangan beras yang tersedia.

Produksi beras hingga Oktober diperkirakan sekitar 30 juta ton. Total stok yang mencakup cadangan pemerintah, persediaan Horeka, rumah tangga, dan tanaman yang telah ditanam diperkirakan berada di kisaran 25 juta hingga 26 juta ton.

Kebutuhan nasional saat ini berada di rentang 2,5 juta hingga 2,6 juta ton per bulan. Dengan kondisi tersebut, stok dinilai cukup untuk sekitar 10 bulan dan belum menghitung hasil tanaman yang baru ditanam.

Stok beras pemerintah yang dikelola Bulog masih sekitar 5,2 juta ton. Pemerintah juga terus menyerap beras, sementara panen puncak berikutnya diperkirakan berlangsung pada Februari.

“Cukup aman stok beras Indonesia,” kata Amran. Pemerintah akan menjadikan kecukupan pasokan nasional sebagai pertimbangan utama sebelum memperluas ekspor beras premium Indonesia ke negara lain.

Baca Juga