Keterbatasan APBD mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif mencari sumber penggerak ekonomi di luar anggaran pemerintah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta kepala daerah menawarkan potensi wilayah secara serius kepada investor.
APBD Provinsi Jawa Tengah sekitar Rp23 triliun harus memenuhi beragam kebutuhan di 35 kabupaten dan kota. Anggaran itu digunakan untuk pelayanan dasar hingga pembangunan infrastruktur, sehingga kolaborasi dengan dunia usaha dinilai semakin penting.
Tegal Memiliki Ruang Pertumbuhan Baru
Kota Tegal dinilai mempunyai modal untuk berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Pantura bagian barat. Potensi sektor maritim, perdagangan, jasa, kuliner, dan kewirausahaan dipandang dapat dikemas menjadi peluang bisnis.
Pemerintah Kota Tegal berharap aset dan lahan strategis dapat dikembangkan sebagai pusat kegiatan ekonomi baru. Sektor perdagangan, jasa, perhotelan, kuliner, serta fasilitas publik menjadi bidang yang ingin diperkuat melalui investasi.
Kota Tegal juga kembali masuk 10 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah pada Triwulan I 2026. Pada 2025, realisasi investasi di kota tersebut mencapai Rp791,67 miliar atau 132 persen dari target.
| Periode | Realisasi Investasi Jawa Tengah | Penyerapan Tenaga Kerja |
|---|---|---|
| 2025 | Rp110,64 triliun | Lebih dari 418 ribu tenaga kerja |
| Triwulan I 2026 | Rp23,02 triliun | Sekitar 92 ribu tenaga kerja |
Data yang disampaikan dalam forum memperlihatkan tren investasi Jawa Tengah yang positif. Pertumbuhan ekonomi provinsi pada Triwulan I 2026 tercatat 5,89 persen, di atas rata-rata nasional sebesar 5,61 persen.
Capaian tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga arus investasi agar tetap menghasilkan aktivitas ekonomi dan kesempatan kerja. Luthfi menekankan bahwa manfaatnya harus dapat dirasakan masyarakat secara luas.
Forum Tidak Boleh Berhenti sebagai Acara
Pesan itu disampaikan Luthfi saat membuka Tegal Business Forum 2026 di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal, Selasa (21/7/2026). Ia mengingatkan bahwa keberhasilan forum tidak ditentukan oleh besarnya acara, tetapi oleh nilai investasi dan hasil kerja sama yang benar-benar terwujud.
“Business forum harus berorientasi pada hasil, jangan hanya orientasi kegiatan. Harus ada yang dijual kepada pelaku usaha, kemudian ada MoU atau kerja sama, sehingga hasilnya jelas dan dapat diukur,” ujar Luthfi.
Ia meminta bupati dan wali kota bertindak sebagai marketing manager di daerah masing-masing. Peran tersebut mencakup promosi peluang usaha, pemberian kepastian kepada investor, dan penyelesaian hambatan investasi.
Strategi itu sejalan dengan upaya pemerintah provinsi membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru di setiap wilayah eks-karesidenan. Pusat-pusat pertumbuhan tersebut diharapkan saling terhubung untuk memperkuat ekonomi regional.
Pelaku Usaha dan Perbankan Dilibatkan
Tegal Business Forum mengusung tema “Amazing Tegal, Amazing Investment, and Amazing Service”. Forum itu diikuti sekitar 100 pengusaha besar, 100 pelaku usaha kuliner, restoran, kafe, dan lounge, serta perwakilan sekitar 20 perusahaan penanaman modal asing.
Luthfi juga meminta investasi memberi ruang bagi sekitar 4,9 juta pelaku UMKM di Jawa Tengah. Pertumbuhan tidak boleh terkonsentrasi pada perusahaan besar saja.
Bank Jateng diminta memperluas pembiayaan ke sektor produktif. Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko menyebut dana yang dihimpun akan disalurkan kepada usaha mikro, kecil, menengah, hingga komersial.
Infojateng.id mencatat bahwa tindak lanjut forum akan dinilai dari investasi yang terealisasi, lapangan kerja yang tercipta, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Tolok ukur itu menempatkan forum bisnis sebagai sarana untuk mendorong proyek yang berjalan, bukan sekadar pertemuan.






