AI Mazu China Membaca Ancaman Banjir Lebih Dini, Dipakai di 40 Negara

China mengembangkan kecerdasan buatan Mazu untuk membantu membaca risiko banjir, badai, gelombang panas, dan angin kencang sebelum ancaman tersebut berkembang menjadi bencana. Sistem ini kini disebut telah dimanfaatkan lembaga meteorologi dan penanggulangan bencana di lebih dari 40 negara dan wilayah.

Penerapannya tidak dibuat seragam untuk semua negara karena Mazu dapat disesuaikan dengan kondisi geografis serta jenis ancaman dominan di tiap wilayah. Pendekatan ini membuat sistem peringatan dini dapat diarahkan pada kebutuhan lokal yang berbeda-beda.

Disesuaikan dengan ancaman tiap wilayah

Djibouti menjadi salah satu contoh penerapan yang disampaikan China Meteorological Administration atau CMA. Di negara Afrika Timur itu, Mazu difokuskan untuk memantau gelombang panas dan memberi peringatan angin kencang di kawasan pelabuhan.

CMA juga menyebut Pakistan berpotensi memperoleh manfaat dalam perlindungan hasil panen serta pengurangan dampak ekonomi akibat bencana. Nigeria dan Ethiopia termasuk negara yang disebut mendapatkan versi khusus Mazu.

WilayahFokus penerapan Mazu
DjiboutiPemantauan gelombang panas dan peringatan angin kencang di pelabuhan
PakistanPotensi perlindungan hasil panen dan pengurangan dampak ekonomi bencana
Nigeria dan EthiopiaDisebut memperoleh versi Mazu yang disesuaikan

Layanan Mazu di berbagai negara dan wilayah tersebut berjalan melalui sistem berbasis cloud. Namun, CMA tidak merinci seluruh negara yang telah memakai teknologi ini.

Bukan sekadar prakiraan cuaca

Mazu dirancang sebagai bagian dari rangkaian penanganan cuaca ekstrem yang lebih luas, bukan hanya mesin penyusun prakiraan harian. Sistem ini mencakup pemantauan, peringatan, penyebaran informasi, hingga dukungan terhadap respons kebencanaan.

Pemanfaatannya juga disiapkan untuk sektor transportasi, energi, pertanian, dan ekonomi penerbangan rendah. Di bidang pertanian, kemampuan membaca ancaman cuaca lebih awal dinilai dapat membantu menjaga hasil panen serta memperkuat ketahanan pangan.

Nama AI Mazu diambil dari dewi laut dalam kepercayaan masyarakat China yang diyakini sebagai pelindung pelaut. Nama tersebut dipakai untuk menggambarkan harapan agar teknologi ini dapat membantu melindungi masyarakat dari risiko cuaca ekstrem.

Data satelit menjadi fondasi analisis

Inti kerja Mazu bertumpu pada gabungan data pengamatan meteorologi dari berbagai sumber, termasuk Satelit Fengyun milik China. Data itu kemudian diolah untuk menghasilkan prakiraan dan peringatan dini cuaca ekstrem.

CMA memakai tiga model AI bernama Fenglei, Fengqing, dan Fengshun untuk menganalisis data yang masuk. Perangkat pemantauan pendukung dapat mengukur suhu, tekanan udara, dan jarak pandang, sekaligus menerima data satelit secara langsung.

KomponenFungsi
Satelit FengyunMenyediakan data pengamatan meteorologi
Fenglei, Fengqing, dan FengshunMenganalisis data untuk prakiraan dan peringatan dini
Perangkat pemantauanMengukur kondisi atmosfer dan menerima data satelit

CMA memperkenalkan Mazu dalam World Artificial Intelligence Conference 2026 di Shanghai, di tengah tren pameran AI yang banyak menampilkan robot humanoid dan chatbot. Sistem ini pertama kali diperkenalkan pada 2025 dan terus dikembangkan hingga versi yang dipamerkan tersebut.

Selain pembaruan sistem utama, CMA memperkenalkan Mazu-FengYun Satellite AI Box yang menggabungkan kemampuan satelit Fengyun dan AI. Perangkat itu ditujukan agar lembaga meteorologi di berbagai negara dapat melakukan analisis serta Peringatan Dini Cuaca dengan dukungan kemampuan AI.

Baca Juga