Status sudah bekerja belum selalu menunjukkan bahwa pendidikan seseorang telah terserap pada tingkat yang sesuai. Sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 tercatat bekerja pada jabatan yang dinilai berada di bawah kualifikasi pendidikannya.
Angka tersebut membuat persoalan pasar kerja tidak cukup dibaca hanya melalui data pengangguran. Lulusan yang memiliki pekerjaan tetap dapat menghadapi ketidaksesuaian antara gelar yang ditempuh dan tuntutan jabatan yang dijalankan.
Data mencatat jabatan saat survei berlangsung
Temuan ini dicatat Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menggunakan data Sakernas Badan Pusat Statistik tahun 2025. Data tersebut merekam pekerjaan responden pada saat survei dilakukan.
Karena sifatnya demikian, data belum dapat menjawab apakah ketidaksesuaian itu hanya fase awal karier atau bertahan dalam jangka panjang. Perpindahan pekerja ke posisi yang lebih selaras dengan pendidikan juga belum dapat terlihat dari catatan tersebut.
Pengukuran yang digunakan merujuk pada kriteria International Labour Organization atau ILO. Metode ini menilai persoalan lebih luas daripada pengangguran, karena turut melihat pekerja yang telah terserap tetapi berada di jabatan dengan kebutuhan pendidikan lebih rendah.
Jabatan yang disorot mencakup KBJI 3 hingga 9
Kelompok pekerjaan tersebut mengacu pada Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia atau KBJI. Standar ini membagi jenis pekerjaan berdasarkan tugas dan tingkat keterampilan ke dalam 10 kelompok utama.
| Nomor | Kelompok jabatan KBJI |
|---|---|
| 1 | Manajer |
| 2 | Tenaga profesional |
| 3 | Teknisi dan tenaga profesional madya |
| 4 | Tenaga tata usaha |
| 5 | Tenaga usaha jasa dan penjualan |
| 6 | Pekerja terampil pertanian, kehutanan, dan perikanan |
| 7 | Pekerja pengolahan, kerajinan, dan YBDI |
| 8 | Operator dan perakit mesin |
| 9 | Pekerja kasar |
| 10 | Tentara Nasional Indonesia |
Lulusan minimal S1 dalam catatan tersebut tersebar pada kelompok nomor 3 hingga 9. Artinya, gambaran ketidaksesuaian mencakup pekerjaan dari tingkat teknisi sampai pekerja kasar.
Jasa, penjualan, dan administrasi menyerap porsi terbesar
Tenaga tata usaha menjadi kelompok terbesar dengan porsi sekitar 31 persen dari lulusan S1 overeducated. Posisi administrasi banyak tersedia lintas sektor dan umumnya tidak membatasi pelamar hanya dari satu bidang studi.
Tenaga usaha jasa dan penjualan menempati porsi 29,6 persen. Kelompok ini mencakup pekerjaan yang berkaitan dengan pelanggan, penjualan, pelayanan pribadi, keamanan, serta berbagai layanan lain.
| Kelompok pekerjaan | Proporsi |
|---|---|
| Tenaga tata usaha | 31 persen |
| Tenaga usaha jasa dan penjualan | 29,6 persen |
Bagi sebagian lulusan, sektor jasa dan penjualan dapat menjadi tahap awal sebelum memperoleh posisi yang lebih sesuai. Namun, pilihan untuk bertahan juga dapat dipengaruhi pendapatan, komisi, fleksibilitas, dan peluang promosi.
Besarnya porsi lulusan pada dua kelompok tersebut tidak semata-mata menjelaskan preferensi individu. Ketersediaan pekerjaan yang sepadan dengan pendidikan menjadi konteks penting ketika hampir tiga dari 10 lulusan dalam kategori itu berada di sektor jasa dan penjualan.
Data ini menempatkan kualitas penyerapan tenaga kerja terdidik sebagai isu yang berbeda dari sekadar jumlah orang yang bekerja. Seorang sarjana dapat tercatat bekerja, tetapi tetap menghadapi jarak antara pendidikan yang ditempuh dan jabatan yang tersedia.






