4 Teknologi Indonesia yang Dipakai Dunia, dari Peringatan Tsunami hingga QRIS

Sistem peringatan dini tsunami Indonesia menyediakan informasi bagi 28 negara di kawasan Samudra Hindia. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan di dalam negeri juga berperan dalam kebutuhan lintas batas.

Jangkauan inovasi Indonesia tidak terbatas pada mitigasi bencana. Ada pula teknologi untuk membangun jalan layang di kota padat, pesawat multiguna yang dioperasikan sejumlah negara, serta standar pembayaran digital yang tersambung ke enam negara mitra.

TeknologiBidangJangkauan
SosrobahuKonstruksi jalan layangIndonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura
CN235Penerbangan multigunaSejumlah negara Asia, Timur Tengah, dan Afrika
InaTEWSPeringatan dini tsunamiInformasi untuk 28 negara
QRISPembayaran digitalTerhubung ke enam negara mitra

Keempat teknologi tersebut bergerak di sektor yang berbeda, tetapi sama-sama menjawab kebutuhan praktis. Pemakaiannya juga memperlihatkan bahwa inovasi Indonesia dapat diterapkan dalam skala regional.

1. Sosrobahu

Sosrobahu merupakan sebutan populer untuk Landasan Putar Bebas Hambatan atau LPBH, temuan insinyur Indonesia Tjokorda Raka Sukawati. Teknologi ini dirancang agar kepala tiang atau pier head jalan layang dapat dibangun tanpa terlalu mengganggu lalu lintas di bawahnya.

Solusi tersebut penting bagi proyek jalan layang yang berlangsung di kawasan perkotaan padat. Berdasarkan catatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Sosrobahu tidak hanya digunakan di Indonesia.

Teknologi konstruksi ini juga diterapkan di Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di Filipina, Sosrobahu digunakan dalam pembangunan salah satu jalan layang panjang di negara itu.

Penerapan di sejumlah negara memperlihatkan relevansi teknik tersebut bagi proyek infrastruktur dengan ruang kerja terbatas. Metode ini memungkinkan pekerjaan konstruksi dilakukan dengan gangguan lalu lintas yang lebih terkendali.

2. Pesawat CN235

CN235 adalah pesawat multiguna yang digunakan untuk kebutuhan transportasi militer hingga patroli maritim. Pesawat ini lahir dari pengembangan bersama Industri Pesawat Terbang Nurtanio atau IPTN, yang kini bernama PT Dirgantara Indonesia, dengan perusahaan Spanyol CASA.

Kedua pihak membentuk perusahaan patungan Aircraft Technology atau Airtech pada 17 Oktober 1979 untuk merancang CN235. Pengembangan bersama kemudian dimulai pada 1980.

Dua prototipe CN235 menjalani penerbangan perdana pada 1983. Prototipe CASA bernama Elena terbang pada 11 November, sedangkan prototipe IPTN bernama Tetuko terbang pada Desember pada tahun yang sama.

Produksi serial pesawat ini dimulai pada 1986. IPTN atau PTDI lalu mengembangkan varian 110 dan 220, sementara CASA mengembangkan versi 200 dan 300.

PTDI kini menjadi satu-satunya perusahaan yang memproduksi CN235. PTDI mencatat varian CN235-220 telah beroperasi di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Pakistan, Senegal, dan Nepal.

3. InaTEWS

Indonesia Tsunami Early Warning System atau InaTEWS dioperasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Sistem ini menjadi salah satu perangkat penting dalam mitigasi tsunami di Indonesia.

BMKG juga menjalankan peran sebagai Tsunami Service Provider bagi kawasan Samudra Hindia bersama Australia dan India. Dalam kerja sama regional itu, BMKG menyalurkan informasi peringatan dini tsunami kepada 28 negara.

Menurut BMKG, sistem tersebut dapat merilis parameter gempa dalam sekitar 30 hingga 60 detik. Peringatan dini tsunami dapat dikeluarkan dalam waktu kurang dari tiga menit.

Kecepatan penyampaian informasi menjadi unsur penting karena negara di kawasan memerlukan rujukan awal setelah terjadi gempa. InaTEWS menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyedia layanan informasi tsunami di Samudra Hindia.

4. QRIS

Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS dikembangkan Bank Indonesia bersama industri sistem pembayaran. Standar ini ditujukan untuk memudahkan sekaligus menyeragamkan transaksi menggunakan kode QR di Indonesia.

Melalui QRIS Antarnegara, wisatawan Indonesia dapat memakai aplikasi pembayaran domestik ketika bertransaksi di negara mitra. Wisatawan dari negara mitra juga dapat menggunakan sistem pembayaran yang telah terhubung saat berada di Indonesia.

Bank Indonesia mencatat konektivitas QRIS Antarnegara mencakup Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan China. Skema tersebut memungkinkan transaksi lintas negara melalui interoperabilitas QR.

Keterhubungan ini membuat pengguna tidak harus bergantung pada satu jaringan pembayaran yang sama. QRIS memperluas peran standar pembayaran Indonesia dari transaksi domestik ke penggunaan antarnegara.

Baca Juga