Ban yang tampak masih dapat digunakan belum tentu aman untuk perjalanan, terutama jika ketebalan tapaknya telah jauh berkurang. Ban aus lebih mudah menimbun panas dan berpotensi pecah saat mobil melaju cepat atau menempuh perjalanan jauh.
Risiko ini menjadi alasan penggantian ban tidak sebaiknya ditunda hingga permukaannya benar-benar gundul. Kondisi tapak, tekanan angin, dan kerusakan fisik perlu diperiksa secara rutin sebelum mengganggu kendali kendaraan.
Honda menyarankan penggantian ban ketika ketebalan tapak mencapai sekitar 3 mm. Ban juga perlu diganti apabila Tread Wear Indicator atau TWI sudah sejajar dengan permukaan karet.
Patokan tersebut penting karena ban menjadi satu-satunya bagian kendaraan yang bersentuhan langsung dengan jalan. Tapak dan lapisan karetnya bekerja untuk menjaga traksi, membuang air, serta menyerap tekanan dari permukaan yang tidak rata.
| Risiko Utama | Kondisi Pemicu | Akibat yang Mungkin Terjadi |
|---|---|---|
| Pengereman memanjang | Cengkeraman berkurang | Mobil sulit berhenti |
| Aquaplaning | Alur tidak efektif membuang air | Kendali kendaraan menurun |
| Panas berlebih | Tapak semakin tipis | Ban berpotensi pecah |
| Redaman melemah | Lapisan karet menipis | Ban dapat sobek atau benjol |
1. Jarak Berhenti Bertambah
Keausan membuat kemampuan ban aus mencengkeram aspal menurun dibandingkan ban dengan tapak normal. Saat pedal rem diinjak, mobil dapat membutuhkan jarak lebih jauh untuk berhenti.
Situasi itu lebih berbahaya ketika permukaan jalan licin. Jika kendaraan lain berhenti mendadak, pengemudi berpotensi tidak memiliki jarak yang cukup untuk menghindar.
2. Air Tidak Tersalurkan dengan Baik
Alur pada ban dirancang untuk menyalurkan air saat kendaraan melewati jalan basah. Ketika alurnya terkikis, fungsi pembuangan air dari area kontak ban dengan aspal menjadi berkurang.
Kondisi tersebut dapat memicu aquaplaning, yaitu saat mobil meluncur di atas lapisan air. Traksi menurun dan pengemudi dapat kehilangan kendali penuh atas kendaraan.
3. Risiko Panas Berlebih dan Pecah
Gesekan dengan jalan menghasilkan panas yang perlu diserap dan diratakan oleh tapak ban. Lapisan karet yang lebih tipis membuat panas lebih cepat tertimbun.
Penumpukan panas meningkatkan potensi ban mengalami kerusakan hingga pecah secara tiba-tiba. Waspada lebih diperlukan saat mobil dipakai dalam kecepatan tinggi maupun perjalanan jauh.
4. Benturan Lebih Mudah Merusak Struktur Ban
Ban dengan karet yang menipis tidak meredam benturan jalan sebagus ban yang kondisinya masih layak. Lubang, batu, dan aspal tidak rata dapat memberi tekanan lebih besar pada struktur ban.
Akibatnya, ban berisiko mengalami sobek, benjol, atau pecah saat menghantam permukaan keras. Kerusakan fisik perlu diperhatikan bersama pengukuran ketebalan tapak dan tekanan angin.
Menurut informasi Honda yang dikutip Liputan6, pemakaian ban aus dapat memengaruhi keselamatan pengemudi serta pengguna jalan lain. Pemeriksaan dan penggantian tepat waktu membantu mempertahankan daya cengkeram mobil dalam kondisi cuaca maupun medan jalan yang berbeda.
Langkah tersebut juga mengurangi kemungkinan masalah ban muncul ketika kendaraan harus mengerem, melewati genangan, atau menghadapi jalan yang rusak. Ban layak pakai tetap menjadi bagian penting dari kendali kendaraan yang aman.






