Zhu Rongji meninggal dunia di Beijing pada Rabu (12/8) dalam usia 97 tahun, meninggalkan jejak besar dalam perubahan ekonomi China. Mantan perdana menteri itu dikenal karena perannya membuka jalan keterhubungan China dengan perdagangan internasional.
Salah satu agenda terpenting dalam masa kepemimpinannya adalah proses masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. Upaya tersebut menjadi bagian dari reformasi ekonomi yang ia jalankan ketika menjabat perdana menteri pada 1998 hingga 2003.
Proses perundingan sendiri telah dimulai sejak 1986 melalui negosiasi untuk bergabung dengan Perjanjian Umum tentang Tarif dan Pajak atau GATT. Pembicaraan berlangsung lebih dari satu dekade dengan keterlibatan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan puluhan negara lain.
Pada 1999, Zhu datang ke Washington dengan harapan dapat menandatangani kesepakatan dengan Amerika Serikat. Kesepakatan itu hampir rampung, tetapi Presiden Bill Clinton membatalkannya akibat persoalan domestik yang berkaitan dengan skandal Monica Lewinsky.
Kendati demikian, proses panjang tersebut tetap menjadi bagian penting dari warisan Zhu dalam mendorong China ke panggung ekonomi global. Ia dipandang sebagai salah satu administrator dan reformis ekonomi paling efektif sejak berdirinya China pada 1949.
Perjalanan Politik yang Penuh Tekanan
Reputasi Zhu sebagai pembaru tumbuh dari pengalaman politik yang tidak ringan. Sebelum berada di pusat pemerintahan, ia pernah dihukum dan diasingkan karena mengkritik kebijakan ekonomi pada masa Mao Zedong.
Pada 1957, Zhu dikirim ke pedesaan setelah mengkritik kebijakan “lompatan jauh”. Ia diperintahkan melakukan pekerjaan kasar dan dicap sebagai “kaum kanan”.
Ia juga dikeluarkan dari Partai Komunis karena memakai contoh ekonomi negara Barat dan memuji contoh tersebut. Pengasingan kedua kemudian dialaminya saat Revolusi Kebudayaan pada 1966 hingga 1976.
| Periode | Peristiwa Penting |
|---|---|
| 1957 | Zhu diasingkan ke pedesaan dan menjalani pekerjaan kasar. |
| 1966–1976 | Ia kembali mengalami pengasingan pada masa Revolusi Kebudayaan. |
| 1979 | Nama baik Zhu dipulihkan setelah Mao meninggal dunia. |
| 1999 | Kesepakatan China dengan Amerika Serikat hampir rampung di Washington. |
Nama baik Zhu dipulihkan pada 1979. Pengalaman tersebut tidak membuatnya meninggalkan Partai Komunis, karena reformasi yang diperjuangkannya tetap diarahkan untuk menopang keberlanjutan kekuasaan partai.
Julukan “Gorbachev-nya China” pernah dilekatkan kepadanya, tetapi Zhu tidak menyukai sebutan itu. Sikap tersebut mencerminkan posisinya sebagai pembaru yang tetap teguh mendukung sistem politik China.
Ketegasan terhadap Korupsi
Selain agenda ekonomi, Zhu dikenang karena pernyataan keras terhadap korupsi. Pada 1998, ia mengatakan telah menyiapkan 100 peti mati, 99 untuk pejabat korup dan satu untuk dirinya sendiri.
People’s Daily memuat pernyataan tersebut, yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling terkenal dalam karier politiknya. Pernyataan itu memperlihatkan kesediaannya menempatkan diri dalam standar yang sama dengan pejabat yang ingin ditindaknya.
Ketegasan Zhu juga tampak dalam pengelolaan birokrasi. Ia pernah memecat Gubernur Provinsi Heilongjiang secara langsung lantaran gagal mencapai target pertumbuhan.
Gaya bicara yang lugas membuat Zhu dikenal luas di dalam negeri dan mendapat penghargaan di luar China. Ia berupaya menjangkau masyarakat luas dengan berbicara lebih terbuka, bukan sekadar mempertahankan jarak formal sebagai pejabat tinggi.
Warisan Zhu menyatukan dua sisi yang menonjol, yakni disiplin pemerintahan dan dorongan reformasi ekonomi. Dari pengalaman pengasingan hingga perundingan China ke WTO, perjalanan politiknya menunjukkan peran pentingnya dalam perubahan China.






