WeRide memasang target yang sangat besar untuk bisnis robotaxi, yakni hingga 1 juta unit armada pada 2035. Ambisi tersebut membuat ekspansi kendaraan tanpa pengemudi dari China semakin relevan bagi pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Perusahaan itu menargetkan puluhan ribu robotaxi sudah beroperasi pada 2030. Bagi pengemudi transportasi online, target jangka panjang ini belum berarti layanan tanpa sopir segera masuk ke Indonesia, tetapi menunjukkan arah persaingan mobilitas yang makin dekat secara regional.
Armada Level 4 Terus Diperbesar
Hingga akhir Juli, WeRide memiliki lebih dari 1.800 unit robotaxi dalam armadanya. Total kendaraan otonom Level 4 perusahaan mencapai 3.400 unit, termasuk robobus dan kendaraan pembersih jalan otonom.
WeRide membidik total 5.000 kendaraan Level 4 pada akhir tahun ini. Dari jumlah itu, target armada robotaxi ditetapkan mencapai 2.600 unit.
| Indikator | Jumlah atau Target | Keterangan |
|---|---|---|
| Armada robotaxi | Lebih dari 1.800 unit | Posisi hingga akhir Juli |
| Total kendaraan Level 4 | 3.400 unit | Termasuk robotaxi, robobus, dan robosweeper |
| Target kendaraan Level 4 | 5.000 unit | Ditargetkan pada akhir tahun ini |
| Target robotaxi | 2.600 unit | Bagian dari target akhir tahun ini |
Untuk menekan biaya perangkat keras, WeRide mengembangkan robotaxi bersama Geely Farizon. Perusahaan itu juga sedang merancang model baru melalui kerja sama dengan GAC.
Selain layanan robotaxi, WeRide melihat permintaan sistem bantuan mengemudi canggih atau ADAS terus meningkat. CEO WeRide Tony Han menilai produsen otomotif China maupun internasional membutuhkan teknologi tersebut.
Asia Tenggara Masuk Peta Pertumbuhan
WeRide sedang mencari sumber pertumbuhan baru di luar China ketika persaingan robotaxi global semakin ketat. Tony Han menyebut Australia, Korea Selatan, Jepang, dan Asia Tenggara sebagai pasar yang sedang dijajaki perusahaan.
Indonesia belum disebut sebagai negara tujuan operasional yang telah dipastikan. Namun, masuknya Asia Tenggara ke daftar pasar potensial membuka kemungkinan teknologi ini mendekati ekosistem transportasi online di kawasan.
Di Australia, WeRide telah berdiskusi dengan regulator mengenai kemungkinan pengoperasian kendaraan otonom. Persetujuan pemerintah dan aturan lokal menjadi syarat penting sebelum robotaxi dapat beroperasi secara komersial.
Perusahaan berbasis di Guangzhou itu juga menyiapkan robotaxi berkemudi kanan untuk Singapura dan Hong Kong. Kesiapan tersebut penting karena pola lalu lintas di kedua wilayah itu serupa dengan banyak negara Asia.
Jejak Global dan Kinerja Internasional
WeRide telah mengoperasikan kendaraan otonom di lebih dari 60 kota pada 13 negara. Layanannya mencakup robotaxi, bus otonom, serta robosweeper untuk pembersihan jalan.
Pada awal Agustus, WeRide memasuki pasar Denmark sehingga jejak operasionalnya di Eropa mencapai enam negara. Ekspansi internasional kini menjadi salah satu penopang pertumbuhan perusahaan.
Berdasarkan laporan kinerja WeRide, pendapatan internasional pada kuartal II meningkat 164% secara tahunan. Angka itu melampaui pertumbuhan total pendapatan perusahaan yang tercatat 82% pada periode yang sama.
Kerugian EBITDA WeRide pada kuartal II menyusut 8,1% dibandingkan setahun sebelumnya. Perusahaan menargetkan arus kas positif secara kuartalan pada 2028 dan titik impas tahunan pada 2029.
Dalam pernyataan yang dikutip CNBC Indonesia dari Reuters, Han mengatakan WeRide ingin membangun ekosistem di setiap pasar baru. “Kami ingin merekrut tenaga kerja lokal, bekerja sama erat dengan pemerintah serta otoritas setempat, dan memaksimalkan kemitraan dengan pelaku industri lokal,” tegasnya.
WeRide menyatakan belum memiliki kebutuhan mendesak untuk mencari pendanaan baru dalam waktu dekat. Meski demikian, perusahaan tetap membuka peluang pendanaan apabila memperoleh persyaratan yang menguntungkan.






