Setiap anak almarhum Michael Bambang Hartono diperkirakan menerima saham senilai sekitar Rp52,37 triliun. Pembagian itu berasal dari 49 persen saham Michael di PT Dwimuria Investama Andalan yang dibagi rata kepada empat ahli waris.
Nilai keseluruhan porsi yang dialihkan mencapai US$11,7 miliar atau sekitar Rp209,12 triliun per 11 Agustus 2026. Besarnya angka tersebut menempatkan pembagian saham keluarga Hartono dalam jajaran transfer kekayaan terbesar di Asia.
Dampaknya terhadap Struktur Pengendalian BCA
Pengalihan saham kepada empat anak Michael tidak membuat kendali terakhir PT Bank Central Asia Tbk berpindah dari Robert Budi Hartono. Robert tetap memiliki 51 persen saham PT Dwimuria Investama Andalan, sedangkan empat anak Michael secara kolektif memegang 49 persen.
PT Dwimuria merupakan perusahaan induk keluarga Hartono yang memegang peran penting dalam struktur kepemilikan BCA. Karena Robert tetap menguasai porsi mayoritas di perusahaan tersebut, ia tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir BCA.
Perubahan kepemilikan ini disampaikan BCA melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia. Bank juga menerima surat dari Otoritas Jasa Keuangan yang menyatakan struktur kepemilikan baru tersebut telah dicatat secara resmi.
Dalam keterbukaan informasi, BCA menyebut perubahan terjadi karena Michael Bambang Hartono meninggal dunia. “Sehubungan dengan telah meninggal dunianya Alm. Bapak Bambang Hartono yang merupakan pemegang saham dari PT Dwimuria Investama Andalan (PT DIA) yang juga merupakan Pemegang Saham Pengendali Terakhir Perseroan maka terdapat perubahan pemegang saham pengendali PT DIA,” tulis BCA.
Rincian Pembagian Kepemilikan
Michael meninggal dunia pada Maret 2026 dalam usia 86 tahun. Sebelum pembagian tersebut, ia memegang 49 persen saham PT Dwimuria dan menjadi salah satu pihak utama dalam struktur bisnis keluarga bersama Robert.
| Pemegang Kepentingan | Porsi Saham | Nilai yang Tercatat |
|---|---|---|
| Empat anak Michael Bambang Hartono | 49 persen secara kolektif | US$11,7 miliar atau sekitar Rp209,12 triliun |
| Masing-masing anak Michael | Dibagi rata dari 49 persen | Sekitar Rp52,37 triliun |
| Robert Budi Hartono | 51 persen | Tidak dirinci |
Nilai sekitar Rp52,37 triliun untuk setiap anak merupakan nilai kepemilikan di PT Dwimuria. Nilai itu tidak merinci aset pribadi lain yang mungkin dimiliki oleh masing-masing penerima warisan.
Posisi Robert sebagai pemegang 51 persen membuat perubahan ini lebih mencerminkan pembagian warisan daripada pergantian pengendali utama BCA. Kendali atas bank tersebut tetap tercatat pada Robert, sementara porsi milik Michael kini tersebar pada generasi berikutnya.
Regenerasi Keluarga Pemilik Djarum
Perubahan saham di PT Dwimuria berlangsung ketika regenerasi bisnis keluarga Hartono semakin terlihat. Victor Hartono telah ditunjuk sebagai CEO PT Djarum untuk menggantikan Robert Budi Hartono.
Kepentingan bisnis keluarga Hartono tersebar pada sektor rokok, pusat perbelanjaan, e-commerce, dan perkebunan. Peralihan kepemilikan kepada anak-anak Michael memperbesar keterlibatan generasi berikutnya dalam salah satu kelompok usaha terbesar di Indonesia.
Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaan gabungan keluarga Hartono mencapai US$28,6 miliar per 11 Agustus 2026. Nilai tersebut membuat keluarga Hartono tercatat sebagai keluarga terkaya di Indonesia pada periode itu.
Skala pembagian saham ini disebut melampaui warisan pendiri United Overseas Bank Ltd. dari Singapura, Wee Cho Yaw, senilai sekitar US$10 miliar. Meski demikian, catatan resmi pengendalian BCA tetap menempatkan Robert Budi Hartono di posisi terakhir dalam rantai kepemilikan.






