Wall Street menguat hingga Indeks S&P 500 menembus 7.800 untuk pertama kalinya, tetapi sentimen itu tidak menular ke pasar saham Indonesia. IHSG justru turun 1,13 persen dan ditutup di level 6.301,77 pada Kamis (13/8/2026).
Kontras pergerakan tersebut terjadi saat investor asing membukukan jual bersih Rp1,41 triliun di seluruh pasar. Evaluasi MSCI menjadi faktor utama yang menekan sentimen perdagangan domestik.
Bursa AS Didukung Inflasi yang Lebih Rendah
Penguatan saham di Amerika Serikat ditopang data Indeks Harga Produsen Juli yang stagnan 0 persen secara bulanan. Hasil itu lebih rendah dari estimasi konsensus yang memperkirakan kenaikan 0,2 persen.
Penurunan harga minyak mentah dunia juga mendukung sentimen pasar AS. Meta Platforms, Micron Technology, dan Netflix bergerak menguat, sedangkan Cisco Systems merosot lebih dari 8 persen setelah laporan kinerjanya mengecewakan pasar.
Bill Merz, Kepala Riset Pasar Modal U.S. Bank Asset Management, menilai pasar masih memperoleh dukungan dari laba perusahaan. “Gambaran inflasi saat ini belum cukup untuk menggagalkan pasar yang pada dasarnya masih didorong oleh kinerja laba perusahaan,” kata Merz.
Rebalancing MSCI Menekan Pasar Domestik
Di Indonesia, pasar bereaksi negatif terhadap keputusan MSCI yang tidak memasukkan saham Indonesia ke MSCI Global Standard Indexes. Perubahan indeks global dapat mendorong penyesuaian portofolio dan meningkatkan transaksi pada saham yang terdampak.
MSCI mengeluarkan GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk juga diturunkan kelasnya ke MSCI Global Small Cap Indexes.
| Indikator | Pergerakan | Level atau Nilai |
|---|---|---|
| IHSG | Turun 1,13 persen | 6.301,77 |
| S&P 500 | Naik 0,65 persen | Menembus 7.800 |
| Jual bersih asing | Seluruh pasar | Rp1,41 triliun |
| Rupiah | Menguat 0,03 persen | Rp17.860 per dolar AS |
Saham Berkapitalisasi Besar Membebani IHSG
Tekanan indeks paling besar berasal dari PT Bank Central Asia Tbk dengan kontribusi negatif 7,48 poin. PT Amman Mineral Internasional Tbk menjadi pemberat berikutnya sebesar 7,14 poin.
PT Barito Pacific Tbk menambah tekanan sebesar 5,25 poin. Pergerakan tiga saham tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh saham berkapitalisasi besar terhadap arah IHSG.
Arus modal asing juga masih menjadi beban bagi pasar reguler. Sejak awal tahun berjalan, investor asing telah mencatatkan akumulasi jual bersih Rp96,56 triliun.
Rupiah Mengakhiri Pelemahan Dua Hari
Rupiah bergerak berlawanan dengan pelemahan saham dengan menguat tipis 0,03 persen. Nilai tukar berada di Rp17.860 per dolar AS setelah dua hari sebelumnya mengalami pelemahan.
Pelaku pasar selanjutnya menunggu arah kebijakan ekonomi dan penyampaian nota keuangan pemerintah di Gedung DPR RI. Agenda tersebut akan menjadi perhatian di tengah sensitivitas pasar terhadap arus dana asing dan perubahan indeks global.






