Dari Menumpang ke Rumah Layak, Uji Bata Interlock di Wonogiri Berbiaya Rp60 Juta

Isnano Dalhari Nuryanto, buruh tani asal Desa Jaten, Selogiri, kini memiliki rumah baru yang siap ditempati bersama keluarganya. Sebelumnya, ia dan keluarga masih menumpang karena penghasilannya sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan pendidikan dua anaknya.

Rumah yang diterima Isnano merupakan bagian dari pembangunan rumah bantuan dengan teknologi bata interlock di Kabupaten Wonogiri. Untuk bangunan seluas 30 meter persegi, biaya proyek ini sekitar Rp60 juta dengan waktu pengerjaan kurang lebih satu setengah bulan.

“Layak banget (rumahnya),” ujar Isnano mengenai rumah barunya. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap pendekatan pembangunan yang lebih efisien dapat memperluas akses hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Selisih biaya pembangunan

Biaya Rp60 juta menjadi perhatian karena perhitungan pembangunan konvensional untuk rumah dengan luas sama disebut dapat mencapai sekitar Rp90 juta. Selisih tersebut berasal dari perbandingan biaya umum Rp3 juta per meter persegi dengan biaya uji coba bata interlock.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan perbandingan itu saat meninjau program rumah bantuan. “Kalau dihitung oleh tukang, biasanya satu meter persegi itu Rp3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi habisnya Rp90 juta,” katanya.

Menurut Taj Yasin yang dikenal sebagai Gus Yasin, pembangunan rumah dalam pengujian tersebut dibiayai sekitar Rp60 juta. Selain menekan biaya, penggunaan bata interlock juga dipertimbangkan karena pengerjaannya dapat selesai sekitar satu setengah bulan.

Dua unit menjadi bahan pengujian

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjalankan uji coba bersama PT Semen Indonesia (Persero) pada dua unit rumah bantuan di Desa Jaten. Salah satu rumah diresmikan Taj Yasin pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Uji coba tersebut belum berarti bata interlock akan langsung dipakai di seluruh proyek perumahan pemerintah provinsi. Evaluasi terhadap hasil pembangunan dua unit awal akan dilakukan sebelum teknologi itu diterapkan di wilayah lain.

Gus Yasin menyatakan material itu diarahkan terutama untuk mendukung program bantuan rumah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota hingga pemerintah pusat turut mempertimbangkan inovasi yang sama.

Wonogiri mendapat dua jenis intervensi

Pembangunan rumah baru di Desa Jaten juga berkaitan dengan upaya penanganan rumah tidak layak huni dan backlog perumahan. Pada 2026, APBD Jawa Tengah mengalokasikan program perbaikan rumah serta pembangunan hunian baru di 35 kabupaten dan kota.

Intervensi Perumahan 2026Jawa TengahWonogiri
Peningkatan kualitas RTLH5.111 unit235 unit
Pembangunan rumah baru untuk backlog120 unit20 unit

Peningkatan kualitas RTLH diperuntukkan bagi rumah yang sudah ada tetapi kondisinya belum layak. Sementara pembangunan baru ditujukan untuk membantu warga yang terdampak backlog perumahan.

Wonogiri memperoleh alokasi untuk kedua program tersebut pada 2026. Kabupaten ini mendapat 235 unit peningkatan kualitas RTLH dan 20 unit pembangunan rumah baru.

Keberhasilan uji coba bata interlock akan dinilai dari dua rumah bantuan yang telah dibangun di Desa Jaten. Jika efisiensi biaya dan waktu dapat dipertahankan, teknologi ini berpotensi membantu jangkauan program hunian bagi lebih banyak keluarga.

Baca Juga