Meta Pangkas 8.000 Pekerjaan saat Zuckerberg Menjanjikan Masa Depan AI untuk Semua

Janji Mark Zuckerberg bahwa AI akan memperluas peluang manusia datang ketika Meta memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya. Reorganisasi yang berfokus pada AI itu berdampak pada sekitar 8.000 pekerjaan dan memperkuat sorotan terhadap kesenjangan antara visi teknologi dan dampaknya bagi pekerja.

Dalam surat terbuka sekitar 6.500 kata berjudul The Future is for Everyone, Zuckerberg menempatkan AI sebagai teknologi besar yang seharusnya membuka kesempatan baru. CEO Meta tersebut menolak anggapan bahwa teknologi itu akan membuat manusia kehilangan relevansinya.

Janji besar di tengah ancaman pekerjaan

Kekhawatiran publik bukan tanpa dasar karena Dana Moneter Internasional atau IMF memperingatkan AI dapat memengaruhi hampir 40 persen pekerjaan. Lembaga itu juga menilai perkembangan AI berpotensi memperburuk ketimpangan ekonomi global.

Zuckerberg mempertanyakan pesimisme yang berkembang di antara pihak yang membangun AI. “Mengejutkan bahwa diskursus dari banyak pihak yang mengembangkan AI begitu dipenuhi dengan pandangan buruk,” tulisnya.

Ia juga menyatakan tidak memahami alasan seseorang yang percaya AI akan menghapus relevansi manusia justru terburu-buru membangun masa depan tersebut. Pernyataan ini menempatkan Meta dalam perdebatan mengenai apakah AI akan menjadi alat pemberdayaan atau justru mempercepat penggantian pekerjaan.

Manifesto sebagai perebutan pengaruh

Surat para pemimpin teknologi kini tidak hanya menjelaskan produk atau strategi bisnis perusahaan. Manifesto tersebut juga menjadi upaya memengaruhi cara regulator, investor, pengembang, dan publik menentukan arah pengembangan AI.

Blogger ekonomi Noah Smith menilai taruhan pada era AI sangat besar sehingga pandangan para eksekutif teknologi menjadi semakin penting. Menurutnya, mereka melihat perkembangan saat ini sebagai momen penting yang perlu diarahkan semaksimal mungkin.

TokohPerusahaan/Latar BelakangManifestoPokok Gagasan
Marc AndreessenPendiri NetscapeThe Techno-Optimist ManifestoInovasi dan pertumbuhan untuk mengatasi persoalan manusia.
Mark ZuckerbergMetaThe Future is for EveryoneAI dapat memperluas peluang dan masa depan manusia.
Sam AltmanOpenAIThe Intelligence AgeAI diyakini dapat mempercepat kemajuan manusia.
Dario AmodeiAnthropicMachines of Loving GraceAI berpotensi mengubah kesehatan hingga politik.

Tren ini dipopulerkan Marc Andreessen lewat The Techno-Optimist Manifesto pada 2023. Pendiri Netscape itu memandang pertumbuhan sebagai bentuk kemajuan yang membawa vitalitas, pengetahuan, dan kesejahteraan lebih tinggi.

Sam Altman menyampaikan optimisme serupa melalui The Intelligence Age pada 2024. CEO OpenAI itu menekankan masyarakat perlu bertindak bijaksana, namun tetap percaya pada kemampuan AI untuk mempercepat kemajuan manusia.

Dario Amodei dari Anthropic lewat Machines of Loving Grace menguraikan manfaat potensial AI di sejumlah bidang. Ia menyatakan tidak ingin hanya dipandang sebagai pihak yang menyoroti ancaman teknologi.

Persoalan akses terbuka dan penyalahgunaan

Perdebatan penting lainnya muncul dari rencana Meta membagikan perangkat AI secara lebih terbuka. Pendekatan ini memungkinkan publik melihat, memakai, dan mengubah desain atau kode yang berada di balik teknologi tersebut.

Pendukung sumber terbuka menilai langkah itu dapat memperluas akses dan inovasi. Namun, kritikus mengingatkan kemampuan AI yang kuat bisa lebih mudah disalahgunakan ketika tersedia secara luas.

Sejumlah model AI kuat dilaporkan berhasil meretas situs web dalam beberapa pekan terakhir, meski model tersebut bukan AI sumber terbuka. Kasus itu tetap menimbulkan pertanyaan mengenai batas aman penyebaran kemampuan AI.

Smith menegaskan persoalan tersebut tidak layak diperlakukan sebagai candaan. “Haruskah kita membuka sumber sesuatu yang memiliki kemampuan untuk membunuh umat manusia?” ujarnya.

Persaingan AI sumber terbuka juga semakin ramai dengan kehadiran Qwen, DeepSeek, dan GLM dari China. Dalam kondisi ini, keputusan Meta menyangkut bukan hanya citra perusahaan, melainkan pula kompetisi dan akses terhadap model AI kuat.

Profesor bisnis Tulane University, Rob Lalka, menilai manifesto membantu eksekutif tampil sebagai pemikir masa depan, bukan sekadar pengusaha. Meski begitu, ia mengingatkan banyak dasar optimisme terhadap AI masih belum terbukti di tengah kemarahan publik atas ancaman kerja dan persoalan lingkungan.

Baca Juga