Penggunaan uang saku dan kemampuan merespons stres sama-sama dapat menentukan cara remaja menjalani keseharian. Karena itu, pembekalan keuangan dan kesehatan mental perlu diberikan secara beriringan, bukan dipisahkan.
Remaja menghadapi pilihan konsumsi digital yang beragam, sementara tekanan sosial juga dapat hadir dalam aktivitas sehari-hari. Mereka memerlukan kemampuan untuk menentukan prioritas, mengenali kondisi emosional, dan mencari bantuan bila diperlukan.
PT AXA Mandiri Financial Services menggelar kegiatan edukasi bagi ratusan siswa SMA Negeri 3 Jakarta pada Senin (27/7). Program dalam rangka momentum Hari Anak Nasional tersebut mengusung tema Lebih Cermat, Lebih Sehat, Lebih Mandiri.
Kegiatan itu menekankan bahwa fondasi masa depan tidak semata-mata dibangun dari kemampuan akademik. Kesiapan mengatur keuangan serta menjaga keseimbangan emosi juga dinilai penting bagi pelajar yang akan melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja.
Dua Materi dalam Satu Pembekalan
| Materi | Pokok Bahasan | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Literasi keuangan | Kebutuhan, keinginan, uang saku, menabung, perencanaan | Keputusan keuangan lebih bijak |
| Kesehatan mental | Stres, keseimbangan emosi, mencari bantuan | Lebih siap menghadapi tekanan |
Dalam materi keuangan, siswa diperkenalkan pada cara membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum menggunakan uang saku. Mereka juga diajak menyusun prioritas kebutuhan agar pengeluaran tidak dilakukan tanpa pertimbangan.
Kebiasaan menabung secara konsisten dan dasar perencanaan keuangan turut dibahas dalam sesi tersebut. Pembelajaran itu menghubungkan keputusan sederhana pada masa sekolah dengan tujuan yang ingin dicapai pada masa depan.
Pada sisi lain, materi kesehatan mental mengajak peserta mengenali stres dan menjaga keseimbangan mental serta emosional. Siswa didorong untuk mencari bantuan saat menghadapi tekanan yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan mereka.
Kemandirian Dibangun dari Keputusan Sehari-hari
Chief Human Capital Officer AXA Mandiri, Elisabeth Evaty Dewi, menilai masa remaja sebagai periode penting untuk membangun kebiasaan keuangan yang sehat. Menurut dia, kemampuan tersebut berkaitan dengan proses belajar mengambil keputusan.
“Kemampuan mengelola uang bukan hanya tentang menabung, tetapi juga tentang belajar membuat keputusan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta merencanakan masa depan sejak dini,” ujar Elisabeth. Ia menyatakan pembiasaan sejak awal dapat memberi manfaat bagi remaja dalam pendidikan tinggi maupun dunia kerja.
Kondisi mental yang baik juga disebut sebagai fondasi agar generasi muda dapat berkembang secara optimal. Remaja yang mampu menjaga keseimbangan emosinya diharapkan lebih siap menghadapi tuntutan belajar, relasi sosial, dan perubahan sehari-hari.
Permainan untuk Memahami Konsekuensi
Materi tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran di kelas. Puluhan karyawan AXA Mandiri turut menjadi sukarelawan yang mendampingi siswa dalam permainan monopoli interaktif tentang pengelolaan keuangan.
Permainan tersebut digunakan agar konsep finansial lebih mudah dipahami oleh pelajar. Peserta dapat melihat konsekuensi dari pilihan keuangan dalam suasana yang lebih menyenangkan dan dekat dengan pengalaman mereka.
MediaIndonesia.com melaporkan, program ini dirancang untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai kesiapan menghadapi masa depan. Penggabungan pengelolaan uang dan kesehatan mental menunjukkan bahwa kemandirian remaja membutuhkan pertimbangan finansial sekaligus kondisi emosional yang terjaga.






