Penguatan rupiah ke Rp17.827 per USD hadir bersamaan dengan kenaikan IHSG pada awal perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan naik 46,94 poin atau 0,73 persen menjadi 6.448,83.
Meski pasar dibuka positif, posisi IHSG kini sangat dekat dengan resistance 6.455. Investor juga menunggu hasil RDG BI dan risalah FOMC untuk menentukan arah sentimen berikutnya.
Posisi Indeks dan Saham Unggulan
IHSG melanjutkan laju positif dari sesi sebelumnya yang ditutup naik 1,59 persen di level 6.401,89. Kenaikan beruntun ini terjadi ketika pasar merespons sejumlah sentimen domestik dan global.
Indeks LQ45 yang mencerminkan kinerja 45 saham unggulan turut menguat. LQ45 bertambah 2,83 poin atau 0,45 persen ke posisi 635,11 pada awal perdagangan.
| Indeks | Kenaikan | Level |
|---|---|---|
| IHSG | 46,94 poin atau 0,73 persen | 6.448,83 |
| LQ45 | 2,83 poin atau 0,45 persen | 635,11 |
| IHSG penutupan sebelumnya | 1,59 persen | 6.401,89 |
Level 6.455 Menguji Kekuatan Penguatan
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas melihat peluang penguatan IHSG masih terbuka dalam jangka pendek. Namun, indeks perlu menghadapi area resistance 6.400 hingga 6.455 yang menjadi batas teknikal penting.
Menurut tim riset, IHSG masih berada dalam struktur penguatan jangka pendek dan bertahan di atas MA20. Mereka menyebut peluang menguji level 6.455 tetap terbuka.
Penembusan di atas 6.455 dapat mengonfirmasi kelanjutan kenaikan indeks. Setelah level itu terlampaui, target pergerakan selanjutnya diproyeksikan berada pada rentang 6.568 hingga 6.716.
| Parameter Teknikal | Rentang |
|---|---|
| Support | 6.200–6.280 |
| Resistance | 6.400–6.455 |
| Target lanjutan | 6.568–6.716 |
Keputusan BI dan The Fed Dinantikan
Fokus utama pasar pada pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan BI Rate dipertahankan di level 5,7 persen.
Investor juga menunggu FOMC Minutes untuk melihat sinyal kebijakan The Fed. Arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi salah satu faktor eksternal yang dicermati pasar setelah pembukaan perdagangan positif.
Di sisi domestik, pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027 telah menjadi salah satu sentimen pendukung pasar sebelumnya. Pemerintah menetapkan target defisit anggaran sebesar 2,40 persen terhadap PDB.
Pemerintah juga menyampaikan optimisme pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6 persen pada 2026. Pelaku pasar tetap mengamati kesinambungan kebijakan fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut data yang dikutip Medcom.id, pasar sedang mempertimbangkan pengaruh faktor domestik dan global secara bersamaan. Pergerakan rupiah, hasil RDG BI, serta sinyal dari The Fed akan menjadi perhatian ketika IHSG menguji area 6.455.






