Tepuk Punggung Bukan Rutinitas Wajib, Respons Bayi Setelah Menyusu Jadi Penentu

Menepuk punggung bayi setelah menyusu bukan rutinitas wajib untuk semua anak. Keputusan membantu bayi bersendawa sebaiknya didasarkan pada tanda yang terlihat setelah ia minum susu.

Bayi yang tetap tenang, tidak sering muntah, dan tampak nyaman tidak perlu dipaksa bersendawa. Pendekatan ini penting karena setiap bayi dapat memiliki respons saluran cerna yang berbeda.

Rasa nyaman menjadi pertimbangan utama

Orangtua dapat melihat apakah bayi menjadi rewel, mudah muntah, atau tampak sulit nyaman setelah menyusu. Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan bahwa bayi mungkin membutuhkan posisi tegak dan bantuan tepukan lembut.

Jika bayi tidak memperlihatkan keluhan, tidak bersendawa bukan berarti ada masalah. Perhatian terhadap kondisi anak setelah minum lebih penting daripada mengikuti kebiasaan turun-temurun secara otomatis.

Dokter Konsultan Gastroentero Hepatologi Anak dari Eka Hospital MT Haryono, dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A. (K), menegaskan bahwa tidak semua bayi harus mendapatkan perlakuan yang sama. “Tidak harus selalu, itu tergantung kondisi anaknya,” ujar dr. Eva.

Pernyataan tersebut menempatkan kebutuhan bayi sebagai dasar perawatan setelah minum susu. Orangtua dapat menyesuaikan langkah yang dilakukan dengan keluhan dan kenyamanan masing-masing anak.

Kondisi yang membuat bantuan bersendawa lebih relevan

Bantuan bersendawa dapat dipertimbangkan pada bayi yang sering muntah sesudah menyusu. Keluhan seperti gumoh pada bayi, kegelisahan, atau rasa tidak nyaman dapat berkaitan dengan lebih banyak udara di lambung.

Udara yang berada di dalam lambung dapat meningkatkan tekanan setelah bayi minum susu. Karena itu, bayi yang sering muntah atau mengalami refluks asam lambung dapat dibantu mengeluarkan udara tersebut.

Kompas.com mengutip penjelasan dr. Eva bahwa bayi dengan keluhan tersebut dapat digendong dalam posisi tegak. Orangtua kemudian dapat menepuk punggung atau pundaknya secara perlahan.

Posisi tegak membantu udara bergerak ke arah atas. Tepukan lembut bertujuan memudahkan udara keluar tanpa menimbulkan ketidaknyamanan pada bayi.

Memahami proses udara di lambung bayi

Sebelum menyusu, lambung bayi memang sudah mengandung udara. Saat bayi mengisap susu, udara dapat terdorong ke bagian bawah lambung bersama cairan yang masuk.

Setelah kenyang, udara tersebut bisa bergerak kembali ke atas secara alami. Udara kemudian keluar melalui proses bayi bersendawa, yang dapat membuat sebagian bayi lebih nyaman.

Tepukan pada punggung tidak perlu dilakukan dengan kuat. Tujuannya bukan memaksa bayi bersendawa, melainkan memberi bantuan bila ia menunjukkan tanda terganggu setelah minum.

Rutinitas setelah menyusui dapat dibuat lebih fleksibel sesuai respons bayi. Bayi yang tenang tanpa sendawa tetap dapat dibiarkan nyaman, sementara bayi yang sering muntah atau rewel bisa dibantu dengan cara yang lembut.

Baca Juga