Pandemi Covid-19 memperlihatkan risiko besar ketika negara produsen membatasi ekspor vaksin dan obat untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Pengalaman itu menjadi salah satu alasan penting bagi Indonesia untuk memperkuat kemampuan produksi farmasi, termasuk obat biologis yang masih hampir sepenuhnya diimpor.
PT Tempo Scan Pacific Tbk bersama SBP Group membentuk PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia atau TCBI untuk menjawab kebutuhan tersebut. Perusahaan patungan ini ditujukan untuk memperluas ketersediaan terapi inovatif dengan harga yang lebih sesuai bagi pasien.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pembentukan TCBI sejalan dengan agenda kemandirian obat nasional. Ia berharap kerja sama tersebut dapat mendukung pengembangan terapi onkologi, penyakit hati, antibodi monoklonal, biosimilar, serta insulin biologis.
Kebutuhan besar di tengah impor yang dominan
Indonesia memiliki hampir setengah juta kasus baru kanker setiap tahun, sementara jumlah penyandang diabetes diperkirakan mencapai sekitar 30 juta orang. Angka diabetes tersebut setara dengan sekitar 11 persen populasi.
Ketergantungan pada produk biologis impor membuat biaya terapi untuk penyakit-penyakit kronis cenderung tinggi. Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menilai tujuan TCBI menghadirkan terapi biologis sangat berkaitan dengan kebutuhan nasional.
| Kategori | Porsi Ketergantungan Impor | Arah Pengembangan |
|---|---|---|
| Obat kimia sintetis | Sekitar 94 persen | Penguatan pasokan nasional |
| Produk biologis dan biosimilar | Hampir 100 persen | Terapi kanker, diabetes, dan penyakit kronis |
Data tersebut menunjukkan besarnya ruang bagi penguatan pasokan farmasi dalam negeri. Produksi yang berada lebih dekat dengan pasar domestik diharapkan dapat membantu menekan biaya pengadaan dan memperluas akses masyarakat terhadap terapi berkualitas.
Menggabungkan fasilitas dan penelitian
TCBI mempertemukan kemampuan manufaktur serta distribusi Tempo Scan Group dengan kekuatan penelitian dan portofolio CTTQ. CTTQ merupakan anak perusahaan SBP Group, kelompok farmasi China yang berfokus pada inovasi, riset, manufaktur, dan komersialisasi obat.
Portofolio perusahaan tersebut meliputi terapi onkologi, kardiometabolik, pernapasan, dan perawatan khusus. Kombinasi kapabilitas ini diharapkan memberi dasar bagi pengembangan lebih dari satu produk di Indonesia.
Tempo Scan memiliki 16 fasilitas manufaktur di dalam negeri. Tiga fasilitas di antaranya telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik atau GMP.
Pada fase awal, TCBI akan membangun organisasi, menyediakan modal kerja, memenuhi persyaratan regulasi, dan menjalankan studi klinis secara bertanggung jawab. Kedua pihak kemudian akan mengevaluasi transfer teknologi secara bertahap dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur Tempo Scan.
Komitmen investasi dan peluang penelitian
SBP Group memegang 51 persen kepemilikan TCBI, sedangkan Tempo Scan Group memiliki 49 persen saham. Executive Chairman dan Co-founder Tempo Scan Group Handojo S Muljadi menyatakan perusahaan patungan dipilih untuk membangun komitmen jangka panjang.
“Komitmen kami tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi sebagai bagian dari global value chain,” ujar Handojo. Ia menyebut bentuk kemitraan tersebut memungkinkan tata kelola yang terintegrasi dibandingkan kerja sama lisensi atau distribusi biasa.
Indonesia juga menjadi negara pertama di luar China yang dipilih CTTQ untuk membentuk perusahaan patungan. President International SBP Group Philip Duong menyatakan keputusan itu mencerminkan kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dan potensi sektor kesehatannya.
SBP Group menyatakan ingin bekerja sama dengan pemerintah agar terapi inovatif dapat dipertimbangkan dalam pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN. Bagi pemerintah dan BPJS Kesehatan, tambahan pemasok farmasi berkualitas dapat membuka pilihan pengadaan yang lebih luas.
TCBI turut membuka peluang keterlibatan rumah sakit dan peneliti lokal dalam uji klinis global di berbagai pusat penelitian. BPOM yang telah memperoleh pengakuan sebagai WHO Listed Authority dinilai dapat memperkuat kredibilitas Indonesia, baik untuk kebutuhan domestik maupun peluang ekspor biofarmasi.






