Indonesia Baru Punya 2.401 Layar, Sinewara Disiapkan PFN untuk Mengejar Ketertinggalan

Indonesia baru memiliki sekitar 2.401 layar bioskop di 505 lokasi, angka yang masih jauh dari kebutuhan ideal menurut PT Produksi Film Negara (Persero). PFN memperkirakan kapasitas nasional idealnya dapat mencapai hingga 20.000 layar, sedangkan target jangka menengahnya berada pada angka 10.000 layar.

Di tengah kesenjangan tersebut, PFN menargetkan peluncuran jaringan bioskop negara Sinewara pada 2027. Jaringan ini dipersiapkan untuk memperluas akses layar lebar, terutama ke wilayah yang belum terlayani secara merata.

Distribusi layar yang ada saat ini masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Wilayah tersebut memiliki 70% layar nasional, sementara Sumatra menampung 15% dan Kalimantan sekitar 5%.

WilayahPersentase LayarCatatan
Pulau Jawa70%Menjadi pusat konsentrasi layar
Sumatra15%Memiliki porsi kedua terbesar
Kalimantan5%Porsi layar masih rendah

Kondisi itu membuat agenda Sinewara memiliki konteks yang lebih luas daripada pembukaan bioskop baru. Dalam rapat DPR pada Februari 2026, Direktur Utama PFN Riefian Fajarsyah menyatakan jaringan tersebut ditujukan untuk menjawab konsentrasi bioskop yang bertumpu pada pengelola swasta dan Pulau Jawa.

PFN belum mengumumkan berapa banyak bioskop ataupun layar yang akan dibuka saat tahap awal. Perusahaan lebih dahulu menyiapkan bioskop percontohan di kantor pusatnya di Jalan Otista, Jakarta Timur.

Proyek Awal Sebelum Ekspansi

Bioskop percontohan itu akan menjadi pijakan sebelum Sinewara dikembangkan ke berbagai daerah. Riefian mengatakan perseroan masih mematangkan berbagai unsur agar jaringan tersebut siap beroperasi ketika diperkenalkan.

“Sinewara masih dalam penggodokan. Kami mematangkan dulu agar produk ini begitu keluar sudah menjadi produk yang matang dan siap dirilis,” ujar Riefian di Gedung BP BUMN, Jakarta, pada 17 Agustus 2026.

Sejumlah kepala daerah dan pemerintah kabupaten disebut telah menjalin komunikasi langsung dengan PFN. Hubungan tersebut membuka peluang pengembangan Sinewara di luar pusat industri hiburan nasional.

Berhadapan dengan Jaringan yang Telah Luas

Langkah PFN berlangsung ketika pasar bioskop telah dikuasai operator dengan jaringan besar. Cinema XXI, yang dikelola PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk. atau CNMA, mengoperasikan 267 bioskop dengan 1.388 layar hingga akhir 2025.

Jaringan itu telah menjangkau 86 kabupaten dan kota. Sementara itu, CGV Cinemas Indonesia milik PT Graha Layar Prima Tbk. atau BLTZ memiliki 72 lokasi bioskop dan 411 layar pada periode yang sama.

JaringanJumlah LokasiJumlah Layar
Cinema XXI267 bioskop1.388
CGV Cinemas Indonesia72 lokasi411
IndonesiaSekitar 505 lokasi2.401

Perbandingan tersebut memperlihatkan skala pasar yang akan dimasuki Sinewara. Kehadiran jaringan baru ini tidak serta-merta mengubah dominasi operator lama, tetapi berpotensi menambah alternatif pengelola layar bagi publik.

Fokus pemerataan menjadi pembeda utama dari arah pengembangan yang disampaikan PFN. Peluncuran 2027 akan bergantung pada keberhasilan proyek percontohan di Jakarta Timur dan tindak lanjut kerja sama dengan pemerintah daerah.

Jika kedua tahapan itu berjalan sesuai rencana, Sinewara dapat menjadi bagian dari upaya memperkecil kesenjangan akses bioskop antardaerah. Perkembangannya akan penting bagi target PFN untuk menambah jumlah layar nasional yang masih jauh dari proyeksi ideal.

Baca Juga