Tank belum kehilangan peran dalam perang modern, tetapi Jerman tidak dapat lagi mengandalkan sistem berat sebagai satu-satunya jawaban. Perkembangan drone yang cepat memaksa Bundeswehr mencari keseimbangan antara perlengkapan konvensional dan kemampuan yang dapat diperbarui dalam waktu singkat.
Max Becker, peneliti kebijakan di Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman atau DGAP, menilai tank masih dibutuhkan untuk merebut wilayah, mempertahankan posisi, dan mendukung serangan jarak jauh. Namun, perang di Ukraina memperlihatkan aset mahal dapat menghadapi ancaman dari drone yang biayanya hanya puluhan ribu euro.
Perang Tidak Lagi Hanya Mengandalkan Sistem Berat
Perang di Ukraina mendorong penggunaan drone sebagai pilihan penting di tengah keterbatasan artileri konvensional dan tank tempur. Kondisi itu membuat teknologi tanpa awak berkembang cepat, lebih mudah dioperasikan, dan lebih murah daripada banyak sistem persenjataan lama.
Sejumlah drone bahkan dapat dikendalikan melalui aplikasi di telepon pintar. Pola ini berbeda dengan sistem drone militer generasi lama yang memerlukan perangkat komputer khusus untuk pengoperasiannya.
Andreas Schwarz dari Komite Pertahanan Bundestag mengatakan kebutuhan yang ia lihat di Kementerian Pertahanan Ukraina berfokus pada drone, amunisi, teknologi informasi, satelit, dan komunikasi. Tank Leopard serta rudal Taurus bukan lagi satu-satunya kebutuhan yang paling disorot dalam konteks tersebut.
Meski demikian, Becker mengingatkan bahwa kondisi Ukraina tidak sepenuhnya sama dengan Jerman dan NATO. Kedua pihak memiliki perlengkapan militer berbeda, sehingga pelajaran dari Ukraina perlu diterapkan dengan mempertimbangkan skenario pertahanan masing-masing.
Bundeswehr Tetap Memerlukan Tank
Schwarz menegaskan tank akan tetap menjadi tulang punggung angkatan darat Bundeswehr. Pertanyaan yang muncul adalah apakah jumlah tank perlu dipertahankan seperti sebelumnya ketika kemampuan lain dapat melengkapi peran kendaraan tempur tersebut.
Becker menyebut kebutuhan Jerman bukan pilihan antara tank atau drone. “Yang dibutuhkan adalah kombinasi yang tepat antara sistem warisan, yang masih diperlukan, dan teknologi drone,” katanya kepada DW.
Tantangan itu semakin besar karena tank mahal dan memiliki waktu pengiriman panjang. Sebaliknya, drone serta amunisi berpemandu mengalami pembaruan lebih cepat dan dapat kehilangan relevansi hanya dalam hitungan minggu atau bulan.
Dana Besar Harus Menghasilkan Kesiapan
Jerman membentuk dana khusus 100 miliar euro setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina pada 2022. Pemerintah juga menaikkan anggaran pertahanan reguler secara agresif hingga menargetkan 152 miliar euro pada 2029.
| Tahun | Anggaran Reguler | Keterangan |
|---|---|---|
| 2025 | 62,4 miliar euro | Belanja pertahanan reguler |
| 2026 | 82,7 miliar euro | Belanja pertahanan reguler |
| 2029 | 152 miliar euro | Target belanja reguler |
Nico Lange, mantan pejabat Kementerian Pertahanan Jerman yang kini menjadi analis pertahanan, menilai besarnya anggaran belum menjamin perbaikan kemampuan tempur. Dalam wawancara dengan Web.de, ia menyoroti sistem pengelolaan belanja yang tetap bermasalah meski menerima dana lebih besar.
Masalah pengadaan juga menjadi perhatian setelah proyek FCAS Prancis-Jerman dibatalkan pada Juni. Proyek pesawat tempur masa depan itu diperkirakan bernilai lebih dari 100 miliar euro.
Industri Harus Siap Merespons Cepat
Jerman telah menerapkan Bundeswehrbeschaffungsbeschleunigungsgesetz atau Undang-Undang Percepatan Pengadaan Militer untuk mengurangi hambatan prosedural. Aturan ini mendesentralisasi pembelian tertentu melalui kenaikan ambang nilai dan menyederhanakan pengadaan pertahanan antarpemerintah.
Langkah tersebut penting karena industri pertahanan Jerman selama ini lama didominasi perusahaan besar seperti Rheinmetall, yang berpengalaman dalam produksi tank dan kapal selam. Model pengadaan lama perlu mampu merespons kebutuhan teknologi yang tidak berkembang dalam siklus panjang.
Becker menilai pembelian dan penimbunan drone tidak cukup bagi Jerman. Kapasitas manufaktur harus dapat memulai produksi massal dalam empat hingga enam minggu ketika kebutuhan baru muncul.
Program rekrutmen besar-besaran juga tetap dijalankan Bundeswehr meski minat dari kalangan muda masih terbatas. Dalam perang yang makin otomatis, personel tetap diperlukan untuk mengoperasikan teknologi, menerbangkan drone, dan memperkuat pasukan cadangan demi perlindungan wilayah Jerman.






