Hakan Calhanoglu menilai Cristian Chivu membawa unsur yang lebih luas daripada taktik ke ruang ganti Inter Milan. Sang pelatih disebut memberi perhatian pada perasaan pemain, membuka ruang komunikasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Pendekatan itu dinilai penting bagi Inter yang tetap menghadapi tuntutan besar untuk meraih hasil. Dalam masa kepemimpinan Chivu, Nerazzurri berhasil memenangkan Coppa Italia dan Liga Italia.
Ruang untuk Membicarakan Persoalan
Calhanoglu menyebut Chivu sebagai pelatih yang hadir ketika pemain menghadapi masalah di luar aspek teknis pertandingan. Menurutnya, kedekatan tersebut membuat hubungan antara pelatih dan skuad tidak berhenti di lapangan latihan.
“Dia lebih memedulikan sisi personal, bukan sekadar sepak bola. Perasaan Anda lebih diutamakan, dan dia terbuka terhadap segalanya,” ujar Calhanoglu seperti dikutip Football Italia.
Gelandang asal Turki itu menilai sikap terbuka Chivu membantu pemain merasa dihargai. Kondisi tersebut dianggap menopang rasa percaya diri yang dibutuhkan saat menjalani kompetisi.
“Dia memberikan kepercayaan diri agar Anda merasa nyaman,” lanjut Calhanoglu. Ia memandang kenyamanan itu sebagai bagian penting dari dinamika tim sehari-hari.
Tuntutan Teknis Tetap Menjadi Dasar
Perhatian personal tidak berarti Chivu mengabaikan pekerjaan taktis. Calhanoglu menegaskan bahwa pelatihnya memiliki pendekatan yang jelas dalam pertandingan maupun sesi latihan.
Namun, pemain Inter itu melihat Chivu mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan sepak bola dan hubungan yang lebih manusiawi. Ia menggambarkan sosok Chivu seperti saudara atau teman ketika berada di luar urusan pertandingan.
“Tentu saja, dia memiliki pendekatan taktis dalam pertandingan dan latihan, tetapi di luar sepak bola, dia seperti saudara atau teman,” kata Calhanoglu. Para pemain, menurutnya, dapat membicarakan berbagai hal dengan mantan pelatih Parma tersebut.
Calhanoglu juga menyinggung bantuan yang diterimanya secara langsung. “Ada banyak hal yang harus saya selesaikan, dan dia sangat membantu saya,” jelasnya.
Dua Era Pelatih di Inter
Chivu memasuki Inter setelah Simone Inzaghi meninggalkan klub usai kekalahan 0-5 dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions 2024/2025. Pergantian itu mengundang keraguan karena Chivu belum memiliki pengalaman panjang menangani klub besar.
Situasinya semakin menantang karena Inzaghi meninggalkan capaian yang tidak kecil. Ia mengoleksi satu Scudetto, dua Coppa Italia, tiga Supercoppa Italia, dan dua kali membawa Inter menjadi runner-up Liga Champions.
| Pelatih | Latar Belakang di Inter | Prestasi yang Disebut |
|---|---|---|
| Simone Inzaghi | Pendahulu Chivu | 1 Scudetto, 2 Coppa Italia, 3 Supercoppa Italia, 2 kali runner-up Liga Champions |
| Cristian Chivu | Pengganti Inzaghi, sebelumnya melatih Parma | Coppa Italia dan Liga Italia |
Di tengah bayang-bayang pencapaian Inzaghi, Chivu mampu mempertahankan Inter pada jalur prestasi. Dua gelar tersebut menjadi penanda bahwa perubahan di kursi pelatih tidak menghilangkan ambisi klub.
Bagi Calhanoglu, kemampuan Chivu menyatukan persiapan pertandingan dan kepedulian terhadap pemain menjadi fondasi yang terasa di dalam skuad. Cara itu membuat peran sang pelatih dinilai melampaui pemberi instruksi dari tepi lapangan.






