Operasi kapal penjaga pantai China secara berpasangan di Samudra Pasifik meningkatkan tekanan terhadap kemampuan pengawasan Taiwan. Seorang pejabat senior Penjaga Pantai Taiwan mengatakan pola ini memberi beban besar bagi kapal Taiwan yang harus memantau aktivitas China secara berkelanjutan.
Taipei khawatir tekanan maritim tersebut dapat berubah menjadi blokade terhadap jalur laut penting pulau itu. Seorang pejabat senior menyebut situasinya dapat meningkat menjadi blokade atau kondisi yang setara dengan “perang semu”.
Kapal China yang beroperasi di arah Pasifik berada di luar zona ekonomi eksklusif Taiwan. Kehadiran mereka dinilai penting karena jalur tersebut berkaitan dengan kelancaran pasokan Taiwan dan hubungan pulau itu dengan para sekutunya.
Armada Lebih Besar dan Lebih Kuat
Penjaga Pantai Taiwan menilai sebagian kapal China yang kini digunakan sebelumnya merupakan kapal perusak angkatan laut. Kapal-kapal itu disebut telah dimodifikasi, dicat ulang, lalu dipindahkan ke dinas penjaga pantai.
Menurut pejabat Taiwan, kapal tersebut memiliki ukuran yang lebih besar dan daya tahan lebih tinggi daripada armada penjaga pantai Taiwan. Kemampuan militernya juga disebut jauh lebih kuat, sehingga ketimpangan kapasitas menjadi perhatian tersendiri bagi Taipei.
Penggunaan kapal penjaga pantai dipandang memberi China cara untuk meningkatkan tekanan tanpa secara terbuka mengedepankan angkatan laut. Pemerintah Taiwan menyebut pendekatan tersebut sebagai lawfare atau perang hukum.
Dalam pandangan Taipei, strategi itu bertujuan menciptakan dasar hukum atas kehadiran dan kegiatan China di perairan sekitar Taiwan. Pejabat Taiwan menilai China berupaya mengubah keadaan yang berlaku di kawasan melalui aktivitas tersebut.
Rekor Kehadiran pada Juni
Tekanan di laut itu berlangsung ketika jumlah kapal pemerintah China di sekitar Taiwan meningkat tajam pada Juni 2026. Data Penjaga Pantai Taiwan mencatat 55 kapal, termasuk kapal penjaga pantai dan kapal riset, beroperasi di kawasan tersebut.
| Waktu Pencatatan | Jumlah Kapal | Perbandingan |
|---|---|---|
| Juni 2026 | 55 kapal | Naik 83% dari Mei |
| Mei 2026 | 30 kapal | – |
| Periode sama tahun sebelumnya | 25 kapal | Naik 120% secara tahunan |
Jumlah pada Juni meningkat 83% dari 30 kapal pada Mei. Angka itu juga 120% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat 25 kapal.
Otoritas Taiwan menyatakan data tersebut belum memasukkan kegiatan kapal China di sekitar pulau-pulau Taiwan dekat pesisir China. Artinya, aktivitas maritim China yang dihadapi Taiwan berpotensi melampaui catatan di sekitar pulau utama.
Respons untuk Kapal Dagang
Selain memperbanyak kehadiran kapal, penjaga pantai China dilaporkan meminta informasi kepada kapal dagang melalui siaran radio. Informasi yang diminta mencakup aktivitas kapal komersial saat keluar dan masuk pelabuhan.
Belum ada kapal dagang yang dilaporkan mengalihkan rute akibat permintaan tersebut. Namun, Taiwan menilai komunikasi itu merupakan bagian dari upaya memperluas pengaruh China atas pergerakan pelayaran di kawasan.
Taiwan menginstruksikan kapal dagang agar tetap memakai rute normal dan mengabaikan arahan dari otoritas China. CNBC Indonesia yang mengutip Reuters melaporkan Taiwan juga menyiapkan latihan simulasi serta latihan langsung untuk menghadapi kemungkinan eskalasi.
Jika keadaan memburuk, Penjaga Pantai Taiwan berencana bekerja sama dengan angkatan laut dalam melindungi jalur laut vital. China belum memberikan tanggapan melalui Kementerian Pertahanan atau Kantor Urusan Taiwan atas perkembangan tersebut.
Beijing tetap menyatakan Taiwan adalah bagian dari China. Taipei menolak klaim itu dan menegaskan bahwa masa depan Taiwan hanya dapat ditentukan oleh rakyatnya.






