Pasar saham Korea Selatan tidak lagi bergerak terutama mengikuti indikator ekonomi seperti pada periode sebelumnya. Arus dana spekulatif ke saham semikonduktor terkait AI dan produk berleverage kini dinilai semakin menentukan arah KOSPI.
Alexander Redman, Kepala Strategi Ekuitas CLSA, menyebut pergeseran itu telah memutus pola lama pasar Korea. “Indeks kini telah terlepas dari seluruh faktor pendorong historis pasar Korea,” ujarnya.
Dua Saham Memegang Pengaruh Besar
Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi pusat perhatian karena keduanya memasok komponen semikonduktor yang dibutuhkan teknologi AI. Dua perusahaan tersebut menyumbang lebih dari separuh kapitalisasi pasar indeks KOSPI.
Bobot yang besar itu membuat perubahan harga kedua saham dapat menggerakkan pasar secara luas. Investor global turut mencermati perkembangan tersebut karena gejolak di Korea Selatan dapat memengaruhi portofolio dari Asia hingga Amerika Serikat.
Mengacu laporan Reuters yang dikutip Kompas.com, rasio harga terhadap laba Samsung Electronics dan SK Hynix berada di bawah lima kali. Valuasi itu dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prospek pertumbuhan laba kedua perusahaan.
Namun, penilaian fundamental tersebut kini harus berhadapan dengan derasnya perdagangan berleverage. Investor dapat memperoleh eksposur berlipat terhadap satu saham melalui ETF, sehingga kenaikan maupun penurunan harga dapat menjadi lebih tajam.
Angka yang Mencerminkan Risiko Leverage
| Indikator | Nilai | Arti bagi Pasar |
|---|---|---|
| ETF leverage dua kali SK Hynix | 7,78 miliar dollar AS | Aset kelolaan di Bursa Hong Kong |
| Pertumbuhan aset ETF | Lebih dari 20 kali lipat | Sejak awal tahun |
| Pinjaman margin ritel | 34,37 triliun won | Masih tinggi setelah turun dari rekor |
| Rekor pinjaman margin | 38,6 triliun won | Tercatat pada Juni |
ETF leverage dua kali berbasis SK Hynix di Hong Kong disebut sebagai produk terbesar di dunia dalam kategori saham tunggal. Dana kelolaannya mencapai 7,78 miliar dollar AS setelah melonjak lebih dari 20 kali lipat sejak awal tahun.
Florian Neto, Kepala Investasi Asia Amundi, mengatakan volume transaksi beberapa ETF leverage saham tunggal bahkan mencapai empat kali rata-rata volume saham acuannya. Ia menilai pertumbuhan tersebut mulai menunjukkan batas penggunaan leverage pada satu saham.
Di pasar domestik, investor ritel juga masih menggunakan pinjaman margin dalam jumlah besar. Saldo 34,37 triliun won memang lebih rendah daripada rekor 38,6 triliun won pada Juni, tetapi tetap memperbesar sensitivitas pasar ketika harga saham turun.
Volatilitas Melonjak dalam Enam Bulan
Kapitalisasi pasar Korea Selatan sempat berlipat ganda dalam enam bulan sebelum KOSPI mengalami koreksi sekitar 20 persen sepanjang bulan ini. Gejolak itu menjadi lebih menonjol karena lebih dari separuh penghentian perdagangan sementara dalam sejarah indeks terjadi pada enam bulan terakhir.
Mekanisme penghentian sementara diterapkan saat indeks turun lebih dari 8 persen selama setidaknya satu menit. Redman menggambarkan perubahan tersebut melalui perbandingan dengan kondisi pasar pada masa lalu.
“Kalau dulu pasar Korea turun 7 persen dalam sehari, saya mungkin tidak akan sedang berbicara dengan Anda. Sekarang itu menjadi hal yang normal,” kata Redman. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana volatilitas tinggi menjadi bagian yang lebih lazim dalam perdagangan saham Korea.
Regulator Menahan Produk Baru
Pemerintah Korea Selatan memutuskan menghentikan sementara penerbitan ETF Leverage Saham Tunggal baru. Langkah tersebut ditujukan untuk membatasi lonjakan spekulasi yang membayangi pasar saham domestik.
Mulai 5 Agustus, saldo kas minimum untuk memperdagangkan ETF leverage saham tunggal dinaikkan tiga kali lipat menjadi 30 juta won atau sekitar 20.300 dollar AS. Aturan ini juga berlaku untuk produk yang tercatat di luar negeri.
Mike Sell, Kepala Global Emerging Market Equities Alquity, menilai pengetatan dapat mengembalikan perhatian investor kepada fundamental perusahaan. Meski demikian, peluang industri AI tetap besar karena SK Hynix pekan lalu menghimpun 26,5 miliar dollar AS di pasar modal Amerika Serikat.
Survei manajer investasi Bank of America menunjukkan mayoritas investor masih menempatkan potensi gelembung AI sebagai salah satu risiko terbesar bagi pasar global. Damien Boey dari Wilson Asset Management mengingatkan bahwa keberhasilan leverage pada akhirnya bergantung pada keberlanjutan pertumbuhan laba perusahaan.






