Jawa Tengah mengandalkan percepatan kerja di sawah untuk mengejar target produksi padi 10.559.679 ton gabah kering giling pada 2026. Melalui sistem sepur, pekerjaan pada lahan dua hektare yang manualnya dapat memakan waktu hingga 10 hari disebut bisa diselesaikan dalam satu hari.
Sistem tersebut menggabungkan mesin pengolah tanah, penyemprot dekomposer, mesin tanam, dan mesin panen secara berurutan. Pola ini ditujukan agar lahan segera kembali siap ditanami dan peluang peningkatan indeks pertanaman dapat terbuka.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan 100 mesin penanam padi dan 10 combine harvester untuk mendukung proses budidaya. Penyaluran alat juga mencakup 86 traktor crawler, 30 traktor roda empat, serta puluhan cultivator dan traktor tangan.
Percepatan mekanisasi menjadi penting karena produksi tinggi tidak hanya ditentukan luas lahan. Ketersediaan tenaga, jadwal tanam, dan kemampuan menghadapi perubahan musim turut menentukan hasil yang dapat dicapai petani.
Target meningkat setelah capaian 2025
Pada 2025, Jawa Tengah menghasilkan 9,39 juta ton GKG dari luas panen sekitar 1,67 juta hektare. Produksi itu naik sekitar 493.684 ton dibandingkan tahun sebelumnya dan menyumbang sekitar 15 persen terhadap produksi pangan nasional.
Untuk 2026, produksi Januari hingga Juli diproyeksikan mencapai 6,74 juta ton GKG. Jumlah tersebut setara 63,43 persen dari sasaran tahunan yang dipatok pemerintah provinsi.
| Indikator | Capaian 2025 | Target atau Proyeksi 2026 |
|---|---|---|
| Produksi padi | 9,39 juta ton GKG | 10.559.679 ton GKG |
| Luas panen | Sekitar 1,67 juta hektare | – |
| Produksi Januari–Juli | – | 6,74 juta ton GKG |
| Kontribusi nasional | Sekitar 15 persen | – |
Hasil panen Jawa Tengah tidak hanya dipakai untuk kebutuhan dalam provinsi. Sebagian produksi bergerak ke berbagai daerah sebagai beras yang tersedia bagi masyarakat Indonesia.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai capaian pertanian didorong oleh kerja petani serta kolaborasi pemerintah daerah. “Petani bukan sekadar penanam, tetapi penjaga masa depan bangsa,” kata Ahmad Luthfi.
Air tetap menjadi penentu di lapangan
Mesin tidak dapat menggantikan kebutuhan air ketika petani menghadapi musim kemarau. Karena itu, pemerintah menyiapkan 334 paket rehabilitasi irigasi tersier, 75 paket irigasi perpipaan, dan 100 unit pompa air pada 2026.
Jawa Tengah juga telah menerima sekitar 17 ribu pompa yang akan dibagikan sesuai kebutuhan wilayah. Penyaluran ini disertai pemetaan daerah rawan kekeringan, pipanisasi, sumurisasi, serta penggunaan sumber air baku.
Di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, lebih dari 100 petani Gapoktan Sari Tani mengelola sekitar 264 hektare sawah. Mereka memperoleh hasil lebih dari enam ton per hektare pada musim tanam kedua 2026, namun masih membutuhkan air untuk musim tanam ketiga.
Kelompok tani tersebut juga mengajukan kebutuhan jaringan listrik untuk sumur pertanian, mesin panen tambahan, dan perbaikan jalan usaha tani. Aspirasi itu telah disampaikan kepada pemerintah pada 24 Juni 2026.
Ketua Gapoktan Sari Tani Joko Mursito mengatakan petani merasa aspirasi mereka mendapat perhatian. “Alhamdulillah petani Desa Gentan senang, karena aspirasi kami langsung ditangkap Pak Gubernur. Kami merasa diperhatikan dan nyaman,” ujarnya.
Di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, irigasi perpompaan mengubah pola tanam pada sekitar 35 hektare lahan Kelompok Tani Budi Luhur. Lahan yang sebelumnya hanya ditanami sekali setahun kini dapat ditanami padi hingga tiga kali setahun.
Kelompok beranggotakan 80 petani itu mencatat produksi sekitar tujuh hingga 7,5 ton per hektare setelah memperoleh irigasi dan alat mesin pertanian. Karyono, anggota kelompok tersebut, mengatakan bantuan irigasi perpompaan memungkinkan petani merasakan panen tiga kali.
Sawah dan distribusi perlu dijaga bersama
Pemerintah menyiapkan bantuan benih dan sarana produksi padi untuk 47.200 hektare pada 2026. Dukungan lain mencakup jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, dan bawang merah melalui true shallot seed seluas 25 hektare.
Asuransi Usaha Tani Padi dialokasikan bagi 10.449 hektare lahan, sementara subsidi suku bunga tersedia untuk 800 paket pembiayaan petani. Langkah ini melengkapi penguatan produksi melalui sarana fisik dan perlindungan usaha.
Menurut data yang dihimpun Suara.com, 26 kabupaten dan kota di Jawa Tengah telah mencapai target perlindungan sawah produktif melalui LP2B sebesar 87 persen. Pengendalian alih fungsi lahan menjadi penting agar ruang produksi pangan tidak terus berkurang.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares menekankan bahwa surplus harus dapat disalurkan secara merata. Distribusi hasil panen perlu dijaga agar pasokan tersedia lebih luas dan harga tetap stabil.






