Sebanyak 1.576 gempa susulan tercatat setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur. Rangkaian guncangan itu terjadi ketika kerusakan bangunan terus didata di sejumlah kabupaten.
Kabupaten Ngada menjadi daerah dengan jumlah rumah terdampak terbesar, mencapai 1.796 unit. Badan Penanggulangan Bencana Daerah masih memverifikasi kategori kerusakan pada rumah-rumah tersebut.
Gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dengan pusat gempa berada di Kabupaten Nagekeo. Gempa susulan paling besar dalam rangkaian itu tercatat berkekuatan magnitudo 6,2.
Menurut BMKG, 54 gempa susulan dirasakan oleh warga. Aktivitas kegempaan masih berfluktuasi sehingga pola peluruhan belum terlihat jelas.
Warga Masih Menghadapi Risiko Guncangan Lanjutan
Kondisi kegempaan diperkirakan mulai lebih stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Namun, pemantauan tetap diperlukan karena gempa susulan masih berpotensi mengganggu wilayah terdampak.
Dampak gempa tidak terbatas pada rumah warga. Tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sekolah, perkantoran, fasilitas umum lain, dan akses jalan juga dilaporkan mengalami kerusakan di beberapa lokasi.
BNPB menyebut pendataan di Ngada belum selesai sehingga belum ada rincian jumlah rumah rusak berat, sedang, dan ringan. Berton SP Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, memastikan proses verifikasi masih dilakukan.
“Kabupaten Ngada, total kerusakan mencapai 1.796 unit rumah. BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan tersebut,” tutur Berton.
Data Sementara di Kabupaten Lain
Rincian sementara menunjukkan rumah rusak tersebar dari Nagekeo hingga Sikka. Manggarai mencatat 761 unit rusak berat, sedangkan Manggarai Barat mencatat total kerusakan yang besar pada seluruh kategori.
| Kabupaten | Rusak Berat | Rusak Sedang | Rusak Ringan |
|---|---|---|---|
| Nagekeo | 116 unit | 6 unit | 42 unit |
| Ende | 108 unit | 85 unit | 268 unit |
| Manggarai | 761 unit | 76 unit | 147 unit |
| Manggarai Timur | 23 unit | 15 unit | 11 unit |
| Manggarai Barat | 481 unit | 202 unit | 231 unit |
| Sikka | 145 unit | 16 unit | 12 unit |
Manggarai Barat memiliki 481 rumah rusak berat, 202 rusak sedang, dan 231 rusak ringan. Ende mencatat 108 rumah rusak berat, 85 rusak sedang, serta 268 rusak ringan.
Di Manggarai Timur, data sementara menunjukkan 23 rumah rusak berat, 15 rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Sementara itu, Nagekeo dan Sikka juga mencatat kerusakan rumah dalam ketiga kategori tersebut.
SAR dan Pelayanan Medis Disiagakan
Tim SAR gabungan tetap berada di lokasi terdampak meski tidak ada warga yang dilaporkan hilang. Kekuatan penanganan melibatkan 63 personel Basarnas dan 1.799 personel potensi SAR.
Basarnas mengoptimalkan pengerahan personel di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Tim bertugas mendukung operasi pencarian, pertolongan, serta penanganan situasi darurat.
Pelayanan kesehatan darurat terus diupayakan sejak gempa terjadi. Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk melayani warga yang memerlukan perawatan.
Pemerintah Provinsi NTT memberlakukan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 15 sampai 28 Agustus 2026. Hingga Senin, 17 Agustus, BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 orang luka-luka akibat gempa.






