Selat Hormuz Jadi Taruhan Baru Saat Iran, Saudi, dan Oman Merapat di Tengah Tekanan AS

Selat Hormuz kembali berada di pusat perhatian karena Iran, Arab Saudi, dan Oman membangun komunikasi untuk menjaga keamanan pelayaran. Langkah tersebut dilakukan ketika tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran belum benar-benar surut.

Jalur laut ini sangat penting bagi distribusi minyak Timur Tengah ke pasar global. Setiap gangguan di perairan tersebut berisiko menghambat pasokan energi, menaikkan harga minyak, dan memicu gejolak ekonomi lebih luas.

Koridor Energi yang Rentan

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz tidak hanya terkait bentrokan antara AS dan Iran. Ancaman terhadap kapal, fasilitas minyak, atau jalur pelayaran dapat mempercepat eskalasi yang melibatkan lebih banyak pihak di kawasan.

Situasi itu menjadi semakin sensitif setelah berlangsung dua pekan serangan antara AS dan Iran. Meski bentrokan dilaporkan memasuki jeda, negara-negara Teluk masih menghadapi risiko dari perkembangan keamanan regional.

Suara.com mengutip CNBC bahwa pasar finansial global merespons positif jeda konflik tersebut. Bursa saham menguat, sedangkan harga minyak turun setelah gencatan senjata tidak tertulis bertahan sejak akhir pekan sebelumnya.

Reaksi pasar menunjukkan pentingnya persepsi stabilitas di kawasan bagi perdagangan energi. Namun, ketenangan itu dapat terganggu apabila terjadi serangan baru atau hambatan terhadap pelayaran internasional.

Jalur Diplomasi Ditempuh

Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araqchi menghubungi Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi melalui telepon. Ketiga pihak membahas keamanan kawasan dan keselamatan pelayaran internasional.

NegaraMenteri Luar NegeriAgenda Utama
IranSeyyed Abbas AraqchiKeamanan kawasan
Arab SaudiFaisal bin FarhanKoordinasi regional
OmanBadr Al-BusaidiKeselamatan pelayaran

Kementerian Luar Negeri Iran menilai penguatan diplomasi regional dibutuhkan di tengah kondisi yang rapuh. Teheran menyerukan kerja sama bersama untuk mengurangi ketidakamanan di perairan strategis tersebut.

Pemerintah Iran menyatakan tindakan agresif Amerika Serikat menjadi penyebab ketidakamanan di koridor maritim itu. Di sisi lain, keterlibatan Riyadh dan Muscat menunjukkan upaya negara kawasan untuk ikut menjaga rute perdagangan penting ini.

Pernyataan Washington dan Bantahan Teheran

Presiden AS Donald Trump menyampaikan kemungkinan serangan udara kembali dilakukan jika diplomasi menemui jalan buntu. Dalam kampanye di Michigan, ia juga mengatakan negosiasi yang disebutnya bersahabat sedang berlangsung.

“Anda tidak bisa menyuap mereka. Anda harus mengalahkan mereka, dan kami akan menghancurkan mereka. Tapi kita lihat saja bagaimana hasilnya. Saat ini, ada negosiasi yang sangat bersahabat yang sedang berlangsung,” kata Trump.

Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya perundingan langsung dengan Washington. Menurut Teheran, pertukaran pesan antara kedua negara sejauh ini dilakukan melalui perantara pihak ketiga.

Drone Memperbesar Risiko Eskalasi

Kerawanan kawasan juga terlihat dari laporan pencegatan sejumlah drone oleh Arab Saudi yang mengarah ke fasilitas minyak. Kelompok milisi di Irak dan Houthi Yaman dituding berada di balik pergerakan tersebut.

Yordania turut melaporkan penembakan jatuh drone misterius di wilayah udaranya pada waktu yang hampir bersamaan. Rangkaian insiden ini menandakan jeda antara AS dan Iran belum serta-merta menghentikan ancaman dari aktor regional.

Serangan terhadap infrastruktur energi atau pelayaran dapat meningkatkan tekanan bagi negara-negara Teluk. Dalam kondisi ini, komunikasi antara Iran, Arab Saudi, dan Oman menjadi penting untuk memperkecil kemungkinan bentrokan menjalar ke Selat Hormuz.

Baca Juga