Gempa M 6,2 di Dekat Labuan Bajo, Tamu Hotel Melihat Lampu Jatuh dari Plafon

Gempa magnitudo 6,2 yang terjadi di 46 kilometer timur laut Labuan Bajo membuat tamu hotel menyaksikan lampu dan benda-benda di dalam bangunan berjatuhan. Guncangan berkedalaman 10 kilometer itu terjadi pada pukul 06.13 WITA, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Peristiwa tersebut dialami Mark van Roy, wisatawan Belanda berusia 61 tahun, bersama istrinya di lantai lima hotel. Keduanya harus menunggu getaran mereda sebelum dapat turun dan keluar dari gedung.

“Gempanya benar-benar dahsyat. Lampu-lampu jatuh dari plafon, semuanya berjatuhan,” kata Van Roy. Dari area luar, ia melihat kondisi bangunan yang menurutnya mengalami kerusakan cukup parah.

Van Roy mengatakan hotel itu tampak seperti akan runtuh saat guncangan terjadi. Ia dan istrinya kemudian meninggalkan Flores untuk kembali ke Bali, tempat mereka tinggal.

Guncangan Setelah Gempa M 7,7

Gempa M 6,2 di dekat Labuan Bajo terjadi setelah gempa berkekuatan M 7,7 di timur laut Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Rangkaian guncangan itu meninggalkan pengalaman menegangkan bagi wisatawan yang sedang berada di Pulau Flores.

Van Roy mengaku telah beberapa kali merasakan gempa selama 19 tahun tinggal di Bali. Namun, ia menyebut getaran kali ini sebagai yang paling kuat yang pernah dialaminya.

Setelah berada di dalam pesawat dan melihat situasi pascagempa, Van Roy serta istrinya merasa keduanya telah lolos dari bahaya. Kesadaran itu muncul setelah mereka meninggalkan wilayah Flores.

WisatawanLokasiSituasi saat GempaTindakan setelah Getaran
Mark van RoyLantai lima hotel, Labuan BajoLampu dan benda berjatuhanKeluar setelah getaran berhenti
Gladys VictoriaBangunan tempat menginapMaterial plafon jatuh mengenai tubuhnyaBerlindung di bawah meja dapur

Plafon Jatuh Mengenai Wisatawan

Pengalaman lain dialami Gladys Victoria, warga Belanda berusia 21 tahun, di bangunan tempat ia menginap. Ia terbangun ketika material plafon jatuh mengenai tubuhnya saat getaran terjadi.

Victoria semula mengaitkan bunyi keras yang didengarnya dengan aktivitas bulldozer atau truk besar. Pemahaman itu berubah ketika ia merasa seluruh bangunan sedang diguncang.

“Saya awalnya berpikir itu bulldozer atau truk besar. Lalu saya berpikir, sepertinya seluruh gedung ini akan runtuh,” ujar Victoria, seperti diberitakan NOS.

Ia memilih berlindung di bawah meja dapur selama getaran berlangsung. Victoria menilai upaya berlari keluar saat itu tidak akan menjamin ia dapat menyelamatkan diri.

Sesudah keadaan tenang, Victoria keluar dari bangunan dan melihat warga setempat mencoba menghubungi keluarga. Upaya itu dilakukan untuk memastikan kerabat mereka aman setelah gempa.

Dua pengalaman wisatawan tersebut menggambarkan dampak guncangan terhadap penghuni bangunan di Flores dan Labuan Bajo. Material plafon serta lampu yang jatuh menjadi risiko langsung bagi orang-orang yang berada di dalam gedung saat gempa berlangsung.

Baca Juga