Rupiah menembus Rp 18.108 per dolar AS pada perdagangan spot Selasa, 28 Juli 2026, setelah melemah selama dua hari berturut-turut. Penurunan kali ini mencapai 99 poin atau 0,55% dari penutupan sebelumnya.
Pasar menempatkan hasil rapat The Fed sebagai agenda utama yang dapat menentukan arah rupiah dalam waktu dekat. Dolar AS yang bertahan pada level tertinggi sekitar satu bulan membuat tekanan terhadap mata uang Indonesia belum mereda.
Dua Sesi Pelemahan Beruntun
Sebelum turun ke Rp 18.108 per dolar AS, rupiah telah melemah 46 poin atau 0,26% pada perdagangan Senin, 27 Juli 2026. Pada akhir perdagangan hari itu, rupiah berada di posisi Rp 18.009 per dolar AS.
Data Bloomberg hingga pukul 09.22 WIB memperlihatkan penurunan pada Selasa lebih besar daripada pelemahan sehari sebelumnya. Kondisi ini menegaskan tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah masih kuat.
Pasar Menunggu Arah Suku Bunga AS
Reuters yang dikutip Beritasatu menyebut pasar masih mempertimbangkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada rapat pekan ini. Namun, peluang suku bunga dipertahankan dinilai lebih besar daripada peluang kenaikan.
The Fed dijadwalkan mengakhiri rapat kebijakan moneternya pada Rabu waktu AS. Keputusan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS sekaligus sentimen terhadap mata uang emerging markets.
Sejumlah perusahaan pialang global mulai melihat kembali risiko kenaikan suku bunga. Pandangan itu muncul setelah harga minyak meningkat sepanjang bulan ini dan ketegangan di Timur Tengah bertambah.
Dolar Tetap Mendapat Penopang
Indeks dolar AS atau DXY naik 0,03% ke 101,55. Indeks ini digunakan untuk mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama.
Euro tercatat turun 0,01% menjadi US$1,1366, sedangkan pound sterling melemah 0,02% ke US$1,3284. Dolar AS juga menguat 0,05% terhadap yen Jepang hingga mencapai 163,82.
Meredanya ketegangan geopolitik setelah jeda serangan Amerika Serikat terhadap Iran sempat menurunkan harga minyak. Perkembangan itu mengurangi kekhawatiran inflasi, tetapi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap terbatas.
Imbal hasil yang tidak banyak turun masih memberi dukungan bagi dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah tetap terjaga menjelang keputusan The Fed.
Pelemahan Terjadi di Hampir Seluruh Asia
Rupiah bukan satu-satunya mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS pada perdagangan tersebut. Namun, besaran koreksinya melampaui penurunan mata uang regional lain yang tercatat dalam data Bloomberg.
| Mata uang | Perubahan terhadap dolar AS | Arah |
|---|---|---|
| Rupiah Indonesia | 0,55% | Melemah |
| Dolar Taiwan | 0,47% | Melemah |
| Won Korea Selatan | 0,24% | Melemah |
| Baht Thailand | 0,10% | Melemah |
| Dolar Singapura | 0,08% | Melemah |
| Peso Filipina | 0,08% | Melemah |
| Yuan China | 0,03% | Melemah |
| Ringgit Malaysia | 0,02% | Melemah |
| Yen Jepang | 0,01% | Melemah |
| Rupee India | 0,70% | Menguat |
| Dolar Hong Kong | 0,01% | Menguat |
Rupee India menguat 0,70%, sementara dolar Hong Kong naik 0,01% terhadap dolar AS. Setelah rupiah mencatat pelemahan terdalam, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga AS dan respons dolar sesudahnya.






