Rupiah diproyeksikan menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (14/8/2026), dengan kisaran pergerakan Rp17.870 hingga Rp17.920 per dolar AS. Proyeksi tersebut muncul setelah mata uang domestik menutup perdagangan Kamis di Rp17.877 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai peluang pelemahan masih terbuka pada perdagangan berikutnya. “Dalam perdagangan besok, kemungkinan rupiah akan mengalami pelemahan. Posisinya adalah di Rp 17.870 – Rp 17.920 per dolar AS,” ujarnya dalam keterangan pada Kamis (13/8/2026).
Rentang proyeksi itu menempatkan level Rp17.920 per dolar AS sebagai batas atas yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Pergerakan rupiah pada Jumat diperkirakan masih sangat dipengaruhi perkembangan sentimen eksternal.
Sentimen Global Masih Menjadi Tekanan
Faktor geopolitik global disebut menjadi salah satu unsur yang membayangi nilai tukar rupiah. Ketidakpastian dari luar negeri membuat pasar tetap berhati-hati dalam mencermati arah mata uang domestik.
Selain geopolitik, perkembangan inflasi di Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama. Ibrahim menilai inflasi AS, baik secara bulanan maupun tahunan, mengalami penurunan.
Kondisi inflasi tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Agustus. Kebijakan suku bunga AS tetap penting karena turut menentukan arah pergerakan dolar AS di pasar mata uang global.
Perhatian pasar terhadap inflasi dan suku bunga AS membuat pergerakan dolar menjadi salah satu penentu utama bagi mata uang negara berkembang. Dalam situasi itu, tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut meski pergerakannya diperkirakan berada dalam rentang terbatas.
Pergerakan Rupiah pada Kamis
Pada awal perdagangan Kamis, rupiah sempat melemah tipis terhadap dolar AS. Mata uang Garuda tercatat turun 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp17.879 per dolar AS.
Namun, tekanan tersebut tidak berlanjut menjadi pelemahan yang lebih dalam hingga akhir sesi. Rupiah kemudian ditutup stagnan pada level Rp17.877 per dolar AS pada Kamis sore.
| Waktu Perdagangan | Posisi Rupiah | Pergerakan |
|---|---|---|
| Kamis pagi | Rp17.879 per dolar AS | Melemah 2 poin atau 0,01 persen |
| Kamis sore | Rp17.877 per dolar AS | Ditutup stagnan |
| Proyeksi Jumat | Rp17.870-Rp17.920 per dolar AS | Berpotensi melemah |
Penutupan yang stagnan tersebut terjadi setelah rupiah bergerak melemah tipis pada pembukaan perdagangan. Investor Daily melaporkan pasar selanjutnya akan memantau apakah rupiah bertahan di sekitar batas bawah proyeksi atau bergerak menuju Rp17.920 per dolar AS.
Status Indonesia di Pasar Berkembang Tetap Dipertahankan
Di tengah tekanan nilai tukar, pasar keuangan domestik juga mencermati hasil tinjauan indeks ekuitas periode Agustus 2026 dari MSCI Inc. Seluruh penyesuaian dalam tinjauan tersebut akan mulai berlaku efektif pada 31 Agustus 2026.
MSCI tidak melakukan perubahan daftar negara dalam kategori emerging market. Dengan keputusan itu, pasar saham Indonesia tetap berada dalam klasifikasi pasar berkembang.
Status tersebut menjadi perkembangan penting bagi pasar domestik ketika pelaku pasar juga menimbang sentimen global terhadap rupiah. Ibrahim mengamati MSCI sejauh ini masih memandang positif prospek perkembangan pasar modal Indonesia.
Keputusan MSCI tidak secara langsung menghilangkan tekanan eksternal terhadap nilai tukar. Namun, posisi Indonesia yang tetap berada dalam kelompok pasar berkembang menjadi salah satu informasi yang diperhatikan pelaku pasar menjelang perdagangan Jumat.
Dengan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga, dan situasi geopolitik masih menjadi perhatian, pergerakan rupiah diperkirakan tetap sensitif terhadap perubahan sentimen global. Kisaran Rp17.870 hingga Rp17.920 per dolar AS menjadi acuan pasar untuk mencermati arah perdagangan berikutnya.






