Ruang Stimulus Menyempit saat Pemerintah Memasang Target Ekonomi 6 Persen

Pemerintah menghadapi tantangan menumbuhkan ekonomi 6 persen pada 2027 saat ruang defisit anggaran dipersempit menjadi 2,4 persen dari PDB. Kondisi itu membuat dorongan pertumbuhan tidak dapat terutama bergantung pada stimulus fiskal yang lebih besar.

Chief Economist Bank Danamon Irman Faiz menilai sasaran pertumbuhan dan defisit tersebut harus berjalan selaras. Menurutnya, peran sektor swasta akan menjadi lebih penting dalam menopang ekspansi ekonomi nasional.

“Tantangan yang lebih besar adalah menyelaraskan pertumbuhan 6% dengan defisit fiskal yang lebih kecil. Defisit sebesar 2,4% berarti percepatan pertumbuhan tidak dapat terutama berasal dari stimulus fiskal yang lebih besar,” ujar Irman.

Produktivitas dan Pendapatan Rumah Tangga

Pemerintah memberi perhatian pada peningkatan produktivitas masyarakat dan pendapatan rumah tangga. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga sumber pertumbuhan ketika kemampuan fiskal untuk memberi stimulus lebih besar terbatas.

Anggaran belanja 2027 akan diarahkan pada delapan sektor prioritas. Ketahanan pangan, energi dan air, pendidikan, serta kesehatan masuk dalam daftar sektor yang menjadi fokus.

Prioritas lain mencakup hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur dan perumahan, ekonomi perdesaan, serta pengentasan kemiskinan. Arah belanja tersebut berjalan bersamaan dengan upaya pengendalian pengeluaran pemerintah.

Efisiensi Pengadaan Berpotensi Rp360 Triliun

Irman memperkirakan konsolidasi pengadaan dapat menghasilkan penghematan sekitar 30 persen. Perhitungan itu berasal dari pengadaan barang dan jasa senilai sekitar Rp1.200 triliun.

Potensi penghematan dari langkah tersebut setara sekitar Rp360 triliun. Efisiensi menjadi salah satu instrumen untuk mendukung pengelolaan defisit sesuai sasaran RAPBN 2027.

Pada sisi pendapatan, pemerintah merencanakan perbaikan administrasi perpajakan dan peningkatan kepatuhan wajib pajak. Optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak juga akan dilakukan dengan tetap menjaga arus kas sektor swasta.

Penerimaan Menjadi Ujian Fiskal

Pendapatan negara dalam rancangan anggaran dipatok sebesar Rp3.426 triliun, meningkat 6,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Belanja negara direncanakan mencapai Rp4.092,7 triliun atau tumbuh 3,9 persen secara tahunan.

Pertumbuhan penerimaan yang lebih cepat daripada belanja menunjukkan arah konsolidasi fiskal pemerintah. Irman menilai realisasi penerimaan akan menjadi ujian utama bagi kredibilitas pengelolaan fiskal.

“Dengan demikian, pelaksanaan penerimaan menjadi ujian utama kredibilitas fiskal. Penerimaan dianggarkan tumbuh lebih cepat daripada belanja, sehingga peningkatan realisasi penerimaan menjadi sangat penting untuk mencapai konsolidasi yang direncanakan,” terang Irman.

IndikatorTarget 2026Target 2027
Pertumbuhan ekonomi5,4 persen6 persen
Defisit anggaran terhadap PDB2,85 persen2,4 persen

Menurut laporan Investor Daily pada Senin, 17 Agustus 2026, target pertumbuhan 2027 naik 0,6 poin persentase dari tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, pemerintah merencanakan defisit yang lebih rendah dibandingkan target 2026.

Perpaduan target pertumbuhan yang lebih ambisius dan defisit lebih ketat menempatkan penerimaan, efisiensi, serta ekspansi sektor swasta sebagai unsur penting kebijakan fiskal. Ketiga unsur tersebut akan menentukan ruang pemerintah menjaga konsolidasi anggaran sambil mengejar pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga