Trump Berselisih soal Vandalisme National Mall, Bukti Hukum Fokus pada Monumen

Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap penanganan perkara vandalisme di kawasan National Mall, Washington. Namun, perkara pidana yang diumumkan terhadap Melissa L. Farris berfokus pada dugaan grafiti dan sabun di Monumen Perang Dunia II, bukan kerusakan rumput yang disorot presiden.

Perbedaan antara tuduhan publik Trump dan isi dokumen dakwaan memperlihatkan dua isu yang tidak sepenuhnya sama. Trump menyebut rumput rusak dan Kolam Refleksi sebagai bagian dari vandalisme, sedangkan kejaksaan menangani dugaan tindakan spesifik pada fasilitas monumen.

Trump Kecewa pada Penanganan Perkara

Trump menyatakan tidak sepakat dengan Jaksa AS Jeanine Pirro terkait keputusan dalam perkara yang berhubungan dengan Kolam Refleksi. Ia menyebutnya sebagai “kasus VANDALISME murni” dan mengaku sangat kecewa terhadap penghentian penuntutan terhadap tersangka utama.

Dalam kritiknya, Trump mengatakan pihak yang mengambil keputusan itu telah “terlipat seperti payung”. Ia juga menyerang pihak yang meragukan adanya perusakan pada Kolam Refleksi melalui unggahan di media sosial.

“Siapa pun yang berpikir Kolam Refleksi tidak dirusak harus kembali ke Sekolah Hukum!” ujar Trump. Pernyataan itu muncul di tengah perhatian pada kondisi rumput yang mengering di dekat Monumen Perang Dunia II.

Blanche Menilai Bukti Menjadi Pertimbangan

Jaksa Agung Muda AS Todd Blanche membela kinerja Pirro saat tampil dalam wawancara di NBC Meet the Press. “Saya sepenuhnya mendukung Jaksa AS Pirro, begitu pula Presiden Trump,” kata Blanche.

Blanche mengatakan keputusan menarik dakwaan harus dipahami berdasarkan kecukupan bukti untuk dibawa ke persidangan. Ia menilai tidak adil menilai Pirro hanya dari satu perkara ketika bukti yang tersedia menjadi faktor utama penanganan kasus.

Menurut Blanche, kejaksaan akan tetap mengejar pelaku pelanggaran yang dapat dibuktikan secara sah. Ia juga menyatakan Pirro telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam penegakan hukum dan penindakan terhadap perusakan yang terbukti.

Dakwaan Farris Tidak Membahas Rumput

Farris ditangkap atas dugaan membuat grafiti di Monumen Perang Dunia II. Coretan pada fasilitas monumen itu berbunyi, “Tangan bersih uang kotor”.

Ia disebut sempat merekam aksinya sebelum ditangkap. Dalam rekaman itu, Farris mengatakan, “Saya akan menunggu di sini untuk ditangkap karena menyemprot air mancur veteran kita.”

Unsur Perkara FarrisKeterangan
Dugaan pertamaPenyemprotan cat pada fasilitas Monumen Perang Dunia II
Dugaan keduaPelemparan sabun ke dalam air mancur monumen

Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Columbia menyebut Farris menghadapi dua dakwaan kejahatan berat. Tidak satu pun dari dakwaan tersebut mencantumkan kerusakan rumput di National Mall.

Foto Udara Memberi Konteks Berbeda

Trump mengunggah foto rumput cokelat pada Minggu, 16 Agustus 2026, dan menuduh vandal merusak area antara Monumen Perang Dunia II serta Kolam Refleksi. Ia menolak anggapan bahwa kondisi kawasan semata-mata dipicu pekerjaan teknis proyek atau kesulitan kontraktor.

Trump kemudian mengunggah gambar lain yang memperlihatkan pola angka “86 47” pada rumput mati. Gambar tersebut dipakainya untuk memperkuat dugaan adanya perusakan yang disengaja.

Di sisi lain, foto udara menunjukkan rumput yang memburuk berada di area bekas panggung utama dan tempat duduk pengunjung dalam perayaan 4 Juli. Kondisi itu dikaitkan dengan pembongkaran panggung serta infrastruktur acara setelah perayaan selesai.

Dengan fokus perkara yang berbeda, kasus Farris tetap berkaitan dengan dugaan kerusakan fasilitas Monumen Perang Dunia II. Sementara penyebab rumput rusak di National Mall masih menjadi bagian terpisah dari perdebatan yang dipicu tuduhan Trump.

Baca Juga