Gangguan penglihatan pada penyandang diabetes tidak seharusnya dinormalisasi sebagai bagian biasa dari penuaan. Ketika keluhan mulai terasa, retinopati diabetik dapat saja telah berkembang lebih jauh karena kerusakan retina sering berlangsung tanpa gejala awal.
Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M. dari UGM menyatakan kebutaan akibat kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah. Deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi kunci agar kerusakan pembuluh darah retina tidak berujung pada kehilangan penglihatan permanen.
Dampak Kehilangan Penglihatan Sangat Luas
Fungsi penglihatan memiliki peran besar dalam aktivitas sehari-hari. Bayu Sasongko mengingatkan sekitar 85% informasi harian ditangkap secara visual.
Karena itu, penurunan penglihatan dapat memengaruhi kualitas hidup pasien secara langsung. Keluarga yang merawat juga dapat menghadapi tambahan beban fisik dan psikologis.
Retinopati Diabetik terjadi ketika diabetes merusak pembuluh darah pada retina. Perubahan tersebut dapat berkembang perlahan, khususnya pada tahun-tahun awal seseorang hidup dengan diabetes.
Pemeriksaan mata secara berkala penting dilakukan sebelum penglihatan menurun. Langkah ini memungkinkan kelainan retina ditemukan pada saat peluang penanganannya masih lebih baik.
Data Menunjukkan Besarnya Tantangan
Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 26 juta penduduk dewasa yang hidup dengan diabetes. Namun, sistem kesehatan nasional baru mendeteksi sekitar 15 juta kasus.
Kesenjangan jumlah tersebut menunjukkan masih banyak orang yang mungkin belum mengetahui kondisi gula darahnya. Tanpa pengendalian, kadar gula darah tinggi dapat memicu komplikasi mikrovaskular pada mata sebelum gejala terlihat.
| Data Kesehatan | Nilai | Penjelasan |
|---|---|---|
| Perkiraan diabetes dewasa | 26 juta orang | Jumlah penduduk dewasa yang diperkirakan hidup dengan diabetes |
| Kasus diabetes terdeteksi | 15 juta orang | Kasus yang telah diketahui sistem kesehatan |
| Retinopati diabetik di Yogyakarta | 43,1% | Prevalensi pada pasien diabetes dalam studi populasi |
| Rata-rata global | 35,4% | Pembanding prevalensi retinopati diabetik |
Studi populasi di Yogyakarta mencatat prevalensi retinopati diabetik sebesar 43,1% pada pasien diabetes. Angka itu lebih tinggi daripada rata-rata prevalensi global sebesar 35,4%.
Tanpa intervensi yang sistematis, kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas hidup di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp84,7 triliun. Angka tersebut menggambarkan dampak komplikasi mata diabetes yang melampaui persoalan kesehatan individual.
Pengendalian Risiko Harus Menyeluruh
Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, menilai diabetes yang tidak terdiagnosis sebagai tantangan besar. Gula darah yang tidak terkendali dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah, terutama bila disertai hipertensi, kolesterol tinggi, dan obesitas.
Orang dengan diabetes tidak terkontrol, penderita hipertensi, serta perempuan yang telah mengalami diabetes sebelum hamil termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan retina. Pengendalian Diabetes Melitus sejak dini perlu berjalan beriringan dengan pemantauan faktor risiko lain.
Diabetes juga berkaitan dengan komplikasi pada organ selain mata. Em Yunir menyebut kondisi ini turut menyumbang sekitar 20 hingga 30% kasus pasien yang menjalani cuci darah.
Skrining Didorong Masuk ke Layanan Primer
Kementerian Kesehatan, UGM, dan Roche Indonesia membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives atau DRIVE untuk memperbaiki penanganan retinopati diabetik yang belum terdeteksi. Salah satu agenda utamanya adalah proyek percontohan tele-ophthalmology dari hulu ke hilir.
Model layanan ini dibutuhkan karena Indonesia rata-rata hanya memiliki satu dokter spesialis mata untuk setiap 116.961 penduduk. Konsorsium berencana menempatkan fundus camera dan melatih dokter umum serta perawat di Puskesmas.
Skrining Retina di layanan primer diharapkan membantu menemukan pasien yang membutuhkan rujukan sebelum kerusakan bertambah berat. Penguatan alur pemeriksaan dan rujukan diarahkan agar pasien mata memperoleh layanan pada waktu yang tepat.
Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25%. Peta jalan itu juga menargetkan sedikitnya 80% penderita diabetes menjalani skrining retina berkala dan 60% pasien dengan VTDR mendapat akses pengobatan yang sesuai.
Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyatakan layanan pasien diabetes sedang diintegrasikan agar skrining retina dapat tersedia di Puskesmas. Program CKG juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memeriksakan gula darah secara berkala sebagai bagian dari deteksi risiko dini.






