Rasio Emas-Perak Turun ke 68, Perak Dinilai Masih Punya Ruang Melaju

Rasio emas terhadap perak turun ke kisaran 68–69 pada awal Agustus 2026, setelah perak mencatat kenaikan jauh lebih cepat. JustMarkets menilai perubahan rasio tersebut menunjukkan perak masih memiliki ruang untuk mengejar nilai relatifnya terhadap emas.

Sepanjang 2026, harga perak dunia melonjak sekitar 69% secara tahunan. Emas pada periode yang sama naik sekitar 30%, sehingga perak tampil sebagai logam mulia dengan penguatan paling tajam.

Perbedaan laju kenaikan itu juga mencerminkan karakter kedua instrumen yang tidak sama. Emas cenderung lebih stabil, sedangkan perak memiliki volatilitas lebih tinggi dan dapat bergerak lebih besar dalam jangka pendek.

Harga Dunia dan Pasar Domestik

TradingEconomics mencatat harga perak di kisaran US$63–64 per ounce pada 11 Agustus 2026. Harga emas pada tanggal yang sama berada sekitar US$4.418 per ounce.

IndikatorEmasPerak
Harga dunia, 11 Agustus 2026~US$4.418/ounce~US$63–64/ounce
Kenaikan tahunan~29,8%~69,4%
Harga Antam, 11 Agustus 2026~Rp2,7 juta/gramRp44.100/gram
Karakter pasarRelatif stabilLebih volatil

Harga perak batangan Antam ikut naik dari Rp39.450 menjadi Rp44.100 per gram dalam waktu kurang dari dua pekan. Data resmi Logam Mulia yang dikutip mediaindonesia.com menunjukkan reli global turut terasa pada pasar domestik.

Pada pekan pertama Agustus 2026, perak bahkan sempat menguat lebih dari 10%. Penguatan cepat itu terjadi ketika minat investasi bertemu kebutuhan logam untuk berbagai sektor industri.

Pasokan Ketat Menjadi Dasar Reli

World Silver Survey 2026 dari Silver Institute dan Metals Focus mencatat defisit pasokan perak global telah terjadi lima tahun berturut-turut hingga 2025. Laporan itu memperkirakan kekurangan pasokan masih mencapai 46,3 juta ounce pada 2026.

Apabila perkiraan tersebut terjadi, 2026 akan menjadi tahun keenam defisit secara beruntun. Kondisi pasokan ketat membuat reli perak tidak sepenuhnya bergantung pada sentimen aset lindung nilai.

Perak digunakan dalam panel surya, kendaraan listrik, dan infrastruktur pusat data AI. Karena itu, pergerakannya juga dapat mengikuti perubahan pada aktivitas manufaktur global.

Niyas Yessengarayev, Regional Marketing Team Lead APAC JustMarkets, mengatakan, “Permintaan investasi yang kuat bertemu dengan defisit pasokan struktural.” Ia menilai gabungan dua faktor itu menciptakan dinamika menarik, sekaligus risiko lebih besar bagi trader ritel.

Emas Tetap Menjadi Acuan Makro

JustMarkets tetap menempatkan emas sebagai acuan utama untuk membaca tren makroekonomi jangka panjang. Suku bunga The Fed, inflasi Amerika Serikat, nilai dolar AS, dan risiko geopolitik masih berperan penting terhadap arah harga emas.

Perak membawa pengaruh tambahan dari sisi stok dan kebutuhan industri, sehingga eksposurnya perlu disesuaikan dengan kehati-hatian. JustMarkets menyarankan kombinasi eksposur karena perak dinilai melengkapi emas, bukan menggantikannya.

Trader dapat menggunakan CFD XAU/USD dan XAG/USD untuk menyesuaikan eksposur mengikuti kondisi pasar secara waktu nyata. Namun, perubahan harga perak yang lebih tajam dibandingkan emas tetap memerlukan perhatian pada risiko harian.

Baca Juga