Proposal Gencatan Senjata 10 Hari Muncul, Pasar Minyak Tetap Cemas pada Houthi

Proposal gencatan senjata selama 10 hari antara Iran dan pihak yang berkonflik memberi harapan baru bagi pasar minyak. Namun, ketenangan itu masih rapuh karena ancaman blokade laut Houthi terhadap Arab Saudi terus membayangi pasokan energi.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima usulan dari para mediator. Usulan tersebut diarahkan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang sebelumnya ditandatangani pada 17 Juni.

Kesepakatan sementara itu dimaksudkan sebagai tahap menuju perjanjian permanen guna mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari. Konflik tersebut disebut bermula setelah serangan provokasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Harapan deeskalasi menjadi salah satu alasan pasar menahan kenaikan harga minyak. Pelaku pasar masih menunggu kepastian apakah jalur diplomasi dapat menurunkan risiko konflik yang telah mendorong harga naik.

Analis pasar IG Tony Sycamore menyatakan minyak masih berpotensi menguat. Akan tetapi, pasar belum melihat kepastian bahwa pembicaraan damai akan menghasilkan kesepakatan.

“Apakah pembicaraan damai itu akan membuahkan hasil masih harus dilihat,” ujar Sycamore dalam catatan riset. Pernyataan itu menggambarkan sikap pasar yang tetap berhati-hati terhadap perkembangan berikutnya.

Brent Turun, WTI Stabil

Minyak mentah Brent turun 35 sen atau 0,4 persen menjadi US$88,87 per barel pada perdagangan Selasa (21/7). Di pasar Amerika Serikat, minyak mentah WTI tercatat relatif stabil pada US$82,47 per barel.

Jenis MinyakPosisi HargaPerubahan
BrentUS$88,87 per barelTurun 35 sen
WTI ASUS$82,47 per barelStabil

Pergerakan tersebut mencerminkan dua kekuatan yang saling menahan di pasar. Harapan mediasi AS-Iran mengurangi tekanan beli, sedangkan kekhawatiran pada perdagangan laut membatasi penurunan harga.

Survei awal Reuters pada Senin memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun pada pekan lalu. Stok bensin juga diproyeksikan menurun, sementara persediaan produk sulingan atau distillate diperkirakan meningkat.

Penurunan stok minyak mentah dapat memberi dukungan tambahan bagi harga bila risiko pasokan meningkat. Faktor persediaan itu menjadi perhatian bersama perkembangan politik dan keamanan di Timur Tengah.

Risiko Baru bagi Eksportir Utama

Kelompok Houthi Yaman pada 20/7 menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Ancaman itu berpotensi menciptakan front baru dalam konflik Amerika Serikat dan Iran di luar kawasan Teluk.

Arab Saudi dipandang penting karena merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Karena itu, setiap risiko gangguan di jalur laut dapat memperbesar kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer menilai ancaman tersebut sangat signifikan bagi perdagangan minyak. Ia menekankan bahwa risiko pada eksportir utama dapat memperburuk tekanan terhadap jalur energi internasional.

“Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap salah satu eksportir minyak utama dunia,” kata Waterer kepada Reuters. Ancaman tersebut membuat pasar belum dapat mengabaikan kemungkinan kenaikan harga baru.

Ketegangan meningkat setelah sejumlah kota di Iran dihujani serangan Amerika Serikat sepanjang malam. Garda Revolusi Iran kemudian membalas dengan menyerang aset militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.

Arah harga minyak selanjutnya akan bergantung pada hasil mediasi dan perkembangan ancaman blokade laut. Kemajuan diplomasi dapat menahan reli, sementara gangguan pasokan berpotensi mengembalikan tekanan kenaikan harga.

Baca Juga