Perak memimpin kenaikan kelompok logam mulia pada perdagangan Senin (17/8/2026) dengan penguatan 1,67 persen. Emas spot turut naik 0,92 persen dan ditutup di US$ 4.416,75 per ons troi.
Penguatan serentak ini berlangsung ketika dolar AS melemah mendekati level psikologis 100. Pasar juga menanti petunjuk kebijakan The Fed melalui risalah rapat periode Juli.
Perbandingan Pergerakan Logam Mulia
Selain emas dan perak, platinum serta paladium mencatat kenaikan dalam perdagangan yang sama. Data harga menunjukkan perak menjadi komoditas dengan persentase kenaikan paling besar.
| Komoditas | Perubahan | Harga per ons |
|---|---|---|
| Emas spot | Naik 0,92% | US$ 4.416,75 |
| Emas berjangka Desember | Naik 0,81% | US$ 4.473,3 |
| Perak | Naik 1,67% | US$ 65,78 |
| Platinum | Naik 1,38% | US$ 1.773,25 |
| Paladium | Naik 0,8% | US$ 1.328,75 |
Harga perak mencapai US$ 65,78 per ons setelah naik 1,67 persen. Platinum menguat menjadi US$ 1.773,25 per ons, sedangkan paladium naik ke US$ 1.328,75 per ons.
Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga bergerak naik. Harganya bertambah 0,81 persen menjadi US$ 4.473,3 per ons troi.
Emas Diuntungkan Dolar yang Melemah
Indeks dolar AS melemah hingga mendekati angka 100 pada perdagangan tersebut. Penurunan nilai dolar membuat harga emas menjadi relatif lebih terjangkau bagi investor yang memakai mata uang lain.
Hubungan ini menjadi salah satu alasan mengapa harga emas mendapat dukungan. Ketika dolar melemah, biaya pembelian emas dalam mata uang non-dolar dapat menjadi lebih ringan.
Emas spot yang berada di US$ 4.416,75 per ons troi menandai posisi harga yang dekat dengan level baru perhatian pasar. Kenaikan tersebut tidak berdiri sendiri karena sentimen positif juga menjalar ke logam mulia lainnya.
Risalah Rapat The Fed Dinanti
Pelaku pasar tengah menilai kembali kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Ekspektasi pasar terhadap lonjakan suku bunga The Fed pada September turun signifikan menjadi 33 persen.
Data CME FedWatch Tool menjadi salah satu rujukan untuk memantau proyeksi suku bunga tersebut. Perubahan ekspektasi ini membentuk konteks penting bagi pergerakan emas pada awal pekan.
Risalah rapat The Fed periode Juli dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8/2026). Pasar akan menggunakan dokumen itu untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Tekanan Ekonomi dan Risiko Geopolitik
Investor Daily melaporkan bahwa perhatian pasar tertuju pada ekonomi AS yang dibayangi pelemahan pasar tenaga kerja. Kondisi tersebut memengaruhi penilaian investor atas sikap bank sentral terhadap inflasi.
Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, mengatakan pasar mulai memperhitungkan risiko ekonomi tersebut dalam harga emas. Ia menilai pelemahan tenaga kerja dan toleransi The Fed terhadap inflasi menjadi kombinasi yang diperhatikan investor.
“Pasar emas tampaknya mulai memperhitungkan kondisi stagflasi, seiring melemahnya pasar tenaga kerja AS dan ekspektasi bahwa The Fed akan menoleransi tingkat inflasi saat ini,” kata Bart Melek.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menopang permintaan terhadap emas sebagai aset aman. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan dolar AS serta pembacaan pasar atas risalah rapat The Fed.






