Presiden Prabowo Subianto menegaskan persaingan TNI dan Polri dalam pembangunan sekolah harus menghasilkan manfaat bagi siswa. Ia meminta kedua institusi memacu mutu fasilitas dan pendidikan ketarunaan, bukan membangun rivalitas.
Tujuan kompetisi itu adalah capaian pembelajaran yang lebih baik. Prabowo menyebut persaingan yang sehat dapat mendorong kualitas pengajaran di sekolah menengah atas berbasis ketarunaan.
“Jadi mereka bersaing dalam kebaikan untuk mencapai prestasi yang lebih baik lagi,” tegas Prabowo. Penegasan tersebut disampaikan dalam Pidato Kenegaraan Tahun 2026.
Pidato itu berlangsung dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPD-DPR RI. Agenda digelar di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Pendidikan Tidak Hanya Bertumpu pada Sekolah Ketarunaan
Pemerintah turut menyiapkan SMA Garuda untuk anak-anak berbakat istimewa. Penyelesaian empat kampus program itu mencakup wilayah Belitung Timur, Konawe Selatan, Bulungan, dan Timor Tengah Selatan.
Program SMA Garuda Transformasi juga disiapkan pada 42 sekolah di 15 provinsi. Sekolah-sekolah tersebut mengadopsi kurikulum berstandar internasional International Baccalaureate atau IB.
Pengembangan ini memperlihatkan adanya perhatian terhadap fasilitas pendidikan untuk beragam kebutuhan peserta didik. Sekolah ketarunaan dan SMA Garuda sama-sama ditempatkan dalam arah peningkatan capaian pendidikan.
Kampus Baru di Lima Wilayah
Pada jalur pendidikan ketarunaan, Kementerian Pertahanan telah membangun lima kampus baru SMA Taruna Nusantara. Lima kampus itu melengkapi kampus induk SMA Taruna Nusantara di Magelang.
| Sekolah | Lokasi Kampus Baru |
|---|---|
| SMA Taruna Nusantara | Cimahi |
| SMA Taruna Nusantara | Malang |
| SMA Taruna Nusantara | Pagar Alam |
| SMA Taruna Nusantara | Ibu Kota Nusantara (IKN) |
| SMA Taruna Nusantara | Minahasa |
Polri bersama Lembaga Perguruan Kemala Taruna Bhayangkara atau LPKTB juga telah menyelesaikan pembangunan satu kampus SMA Taruna Bhayangkara. Pembangunan itu menjadi salah satu unsur dalam kompetisi pendidikan yang disampaikan Presiden.
Prabowo memandang dorongan untuk berprestasi dapat muncul saat salah satu institusi menerima apresiasi. Ia menggambarkan keadaan itu sebagai bentuk kompetisi yang dapat diarahkan secara positif.
“Kalau saya puji TNI, Kapolri agak resah. Kalau saya puji Kapolri, TNI agak resah. Ini yang kita kehendaki, kompetisi yang baik,” ujarnya. Ia kemudian menambahkan, “TNI dan Polri berkompetisi dalam kebaikan, itu yang kita inginkan. Kompetisi baik dalam kebaikan.”
Arah tersebut menempatkan kualitas sekolah sebagai ukuran penting dari persaingan antarlembaga. Prabowo menghendaki manfaat kompetisi itu dirasakan melalui prestasi peserta didik yang terus meningkat.






