Perdamaian Panjang Pernah Terjadi, Perang Bukan Nasib Tak Terelakkan Manusia

Perang memang kerap muncul dalam catatan peradaban, tetapi sejarah juga menyimpan periode hubungan yang relatif damai antarkekuatan besar. Masa stabil tersebut memperlihatkan bahwa konflik bukan satu-satunya pola yang mungkin terjadi dalam kehidupan manusia.

Perdamaian cenderung bertahan ketika tidak ada pihak yang cukup kuat untuk menyerang tanpa risiko besar. Dalam keadaan kekuatan yang relatif seimbang, biaya perang dapat mendorong para pesaing memilih diplomasi.

Keseimbangan Kekuatan Menahan Konflik

Peter Frankopan, profesor sejarah dunia di University of Oxford, menilai keseimbangan kekuatan menjadi salah satu penopang perdamaian. Setiap pihak akan lebih berhati-hati saat kemungkinan kemenangan tidak dapat dipastikan.

Keadaan tersebut membuat perang menjadi pilihan yang mahal dan berbahaya. Stabilitas dapat bertahan lebih lama jika tersedia jalur untuk mengelola persaingan tanpa serangan terbuka.

PeriodeKawasan atau KekuatanGambaran Hubungan
Sekitar 1400-1200 SMMesir dan Kekaisaran HetMenghindari perang besar melalui perjanjian diplomatik
Sekitar 387-501 MRomawi dan PersiaHubungan relatif damai
Sekitar 1600-1850China, Korea, dan JepangPerdamaian panjang ketika Eropa kerap dilanda perang

Hubungan Mesir dan Kekaisaran Het sekitar 1400-1200 SM menunjukkan peran perjanjian diplomatik dalam menghindari perang besar. Romawi dan Persia juga mengalami hubungan yang relatif damai sekitar 387-501 M.

Contoh lain terlihat pada China, Korea, dan Jepang sekitar 1600-1850. Kawasan itu mengalami perdamaian panjang ketika Eropa kerap dilanda perang.

Rangkaian pengalaman tersebut menggambarkan arti Perdamaian Antarkekuatan dalam sejarah. Perdamaian tidak hanya lahir dari ketiadaan persaingan, tetapi juga dari kesadaran bahwa perang membawa kerugian besar bagi seluruh pihak.

Perang Baru Memiliki Arti Khusus dalam Sejarah

Peneliti hubungan internasional Jared Morgan McKinney menyebut perang sebagai kondisi yang umum dalam sejarah. Namun, ia juga menegaskan bahwa pola umum itu selalu memiliki pengecualian.

Pengecualian tersebut penting saat membahas apakah manusia selalu hidup dalam perang. Jawabannya bergantung pada definisi perang yang digunakan.

Ian Morris dari Stanford University membedakan perang dari kekerasan antarmanusia. Menurutnya, sebagian besar sejarah manusia berlangsung sebelum adanya pemerintahan formal.

“Selama hampir 99% sejarah manusia belum ada pemerintahan,” kata Morris, sebagaimana dikutip dari Live Science. Dalam pengertian sejarah, perang biasanya terkait kekerasan yang diorganisasi pemerintah atau kekerasan kolektif dengan jumlah korban tertentu.

Karena kelompok manusia prasejarah masih kecil, banyak ahli berhati-hati memberi label perang pada bentrokan masa itu. Mereka belum memiliki negara, kerajaan, ataupun lembaga pemerintahan yang mengatur tindakan kekerasan.

Kekerasan Sudah Ada Sebelum Negara

Ketiadaan perang yang digerakkan negara tidak berarti manusia purba hidup tanpa kekerasan. Arkeolog menemukan luka tusukan, sayatan, dan hantaman benda tumpul pada kerangka manusia dari masa lampau.

Penguburan sejumlah jasad di lokasi yang sama juga dapat memberi petunjuk mengenai konflik. Namun, tiap temuan tetap harus dibaca bersama konteksnya agar tidak langsung disimpulkan sebagai perang.

LokasiPerkiraan UsiaTemuan
Nataruk, KenyaSekitar 10.000 tahun27 kerangka dengan tanda kematian akibat kekerasan
Jebel Sahaba, SudanSekitar 13.000 tahunJasad dengan bekas serangan antarkelompok

Di Nataruk, Kenya, terdapat 27 kerangka berusia sekitar 10.000 tahun yang menunjukkan tanda kematian akibat kekerasan. Sementara itu, jasad dari Jebel Sahaba di Sudan yang berusia sekitar 13.000 tahun memperlihatkan bekas serangan antarkelompok.

Morris menilai kejadian seperti itu belum tentu termasuk perang karena tidak ada struktur pemerintahan yang mengarahkannya. Temuan tersebut lebih tepat menunjukkan bahwa Kekerasan Prasejarah telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak masa sangat awal.

Peter Stearns, profesor emeritus sejarah di George Mason University, menyatakan hanya sedikit, bahkan mungkin tidak ada perang, dalam masyarakat pemburu-peramu sebelum pertanian muncul. Bukti konflik yang lebih meluas baru terlihat setelah manusia hidup menetap dan membangun komunitas permanen.

Pertanian menghadirkan wilayah, sumber pangan, dan organisasi politik yang semakin rumit. Dari perubahan itulah Sejarah Perang berkembang bersama kemunculan kerajaan dan kekaisaran.

Manusia, karena itu, pernah hidup dalam masa tanpa perang apabila ukuran yang dipakai adalah konflik yang digerakkan negara. Akan tetapi, jejak kekerasan purba menunjukkan bahwa absennya negara tidak pernah sepenuhnya berarti absennya konflik.

Baca Juga