Detail Bordir Wulan Guritno Bertemu Batik Marun, Gaya Klasik untuk HUT RI

Detail bordir pada kebaya putih menjadi penanda utama gaya Wulan Guritno saat menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Bordir di bagian depan, lengan, dan pinggang tampil kontras dengan kain batik merah marun yang dikenakan sebagai bawahan.

Perpaduan tersebut menghadirkan warna merah putih secara tidak langsung melalui busana tradisional. Pilihan itu tetap mempertahankan kesan klasik, sekaligus memberi komposisi warna yang kuat untuk suasana peringatan kemerdekaan.

Bordir dan Kerah Tinggi Membentuk Siluet Rapi

Kebaya Wulan menggunakan material yang terlihat transparan pada beberapa bagian. Kondisi itu membuat motif bordir tampak lebih jelas dan memberi tekstur pada atasan berwarna putih tersebut.

Potongannya mengikuti siluet tubuh untuk menciptakan tampilan yang teratur. Kerah cukup tinggi dengan ornamen motif menguatkan karakter formal dari keseluruhan busana.

Bagian atas yang terang kemudian diimbangi oleh kain batik merah tua atau marun. Motif floral dan burung pada kain memberi unsur dekoratif yang berbeda dari detail bordir pada kebaya.

UnsurRincianFungsi dalam Tampilan
Kebaya putihBordir, material transparan, kerah tinggiMemberi kesan formal dan klasik
Batik marunMotif floral dan burungMenghadirkan aksen merah
Selendang batikMotif sama dengan kain bawahanMengulang komposisi warna
Rias dan aksesoriLipstik merah, sanggul, malati, perhiasanMenyatukan detail busana

Aksen Merah Hadir pada Dua Area

Selain menjadi bawahan, kain bermotif serupa juga dipakai sebagai selendang. Wulan menyampirkannya dari bahu hingga ke bagian depan tubuh.

Keputusan ini membuat motif floral terlihat pada dua area berbeda. Selendang memberi aksen visual yang kuat, tetapi tetap membiarkan kebaya putih menjadi pusat perhatian.

Merah pada kain dan selendang membentuk kontras terhadap warna putih pada atasan. Paduan ini menjadi interpretasi warna nasional yang tidak menghilangkan karakter busana adat.

Rias Klasik dan Perhiasan Pelengkap

Wulan memilih sanggul klasik dengan arah sisiran yang rapi ke belakang. Tatanan ini membuat bagian kerah kebaya serta aksesori depan lebih mudah terlihat.

Bunga malati yang menghiasi sanggul memberi sentuhan tradisional pada penampilannya. Kehadiran bunga itu selaras dengan unsur floral yang terdapat pada kain batik.

Lipstik merah dipilih untuk menyambungkan rias wajah dengan warna kain. Sementara itu, anting dan aksesori kebaya menambahkan efek berkilau dengan porsi yang tetap seimbang.

lifestyle.kompas.com menyebut Wulan melengkapi penampilannya dengan perhiasan dari EPA Jewel. Perhiasan tersebut menjadi bagian pendukung tanpa mengalihkan perhatian dari kebaya dan batik yang dikenakan.

Penampilan di Istana Negara

Wulan hadir di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Senin, 17 Agustus 2026. Busana tersebut dirancang oleh Didi Budiardjo dengan penataan gaya oleh Hagai Pakan dan Julian Jaa.

Potret yang dibagikan melalui media sosial menampilkan rangkaian detail dari kebaya, kain, selendang, hingga aksesori rambut. Keseluruhan susunannya memperlihatkan bagaimana unsur bordir dan batik dapat dipadukan untuk menciptakan gaya formal dalam upacara kenegaraan.

Penggunaan kebaya putih, batik marun, dan aksesori tradisional menghasilkan tampilan yang terarah pada satu tema warna. Setiap elemen hadir sebagai pelengkap, dari selendang bermotif hingga bunga malati pada sanggul.

Baca Juga