Penerimaan Negara Melonjak, Defisit APBN Tetap Rendah di Tengah Belanja Naik

Penerimaan negara tumbuh 21,3 persen hingga akhir Juli 2026, lebih tinggi daripada pertumbuhan belanja negara yang mencapai 18,2 persen. Pada saat bersamaan, defisit APBN tercatat 0,91 persen terhadap produk domestik bruto.

Data tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah menilai ruang fiskal tetap terjaga. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kenaikan belanja negara tidak membuat pengelolaan anggaran kehilangan kendali.

Belanja untuk Daya Beli dan Pelayanan Publik

Belanja negara diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat sektor pelayanan publik. Pemerintah menempatkan kebutuhan tersebut sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Prabowo menyebut disiplin fiskal tetap berjalan meski pengeluaran negara meningkat. “Walaupun belanja negara tumbuh, defisit APBN tetap terjaga hanya 0,91% terhadap produk domestik bruto,” kata Prabowo.

Defisit yang rendah mencerminkan anggaran negara masih dikelola secara terkendali. Pemerintah memandang pertumbuhan belanja dan penjagaan keseimbangan fiskal bukan dua tujuan yang saling bertentangan.

IndikatorRealisasiPeriode
Pertumbuhan penerimaan negara21,3 persenHingga akhir Juli 2026
Pertumbuhan belanja negara18,2 persenHingga akhir Juli 2026
Defisit APBN terhadap PDB0,91 persenHingga akhir Juli 2026
Pertumbuhan ekonomi5,45 persenSemester I-2026

Ekonomi Tumbuh 5,45 Persen

Kinerja APBN itu disampaikan dalam konteks pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45 persen pada semester I-2026. Prabowo menyebut angka tersebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Ia menyampaikan paparan itu saat Sidang Paripurna Pembukaan Masa Sidang I DPR di Gedung DPR/MPR, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Data pertumbuhan tersebut merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik yang dilansir Investor Daily.

Capaian tersebut terjadi ketika ekonomi global menghadapi sejumlah tekanan. Kenaikan harga energi dunia, tingginya suku bunga global, dan gangguan perdagangan internasional menjadi risiko yang menyertai kondisi tersebut.

Prabowo mengatakan ekonomi Indonesia tetap bertahan di tengah ketegangan dan ketidakpastian global. “Namun, di tengah ketegangan dan ketidakpastian global tersebut, kita bersyukur perekonomian kita tetap berdiri tegak,” ujarnya.

Prospek Kredit Tetap Stabil

Fundamental ekonomi Indonesia juga dinilai oleh Standard & Poor’s melalui keputusan mempertahankan peringkat kredit BBB dengan prospek stabil pada 13 Juli 2026. Status itu membuat Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade.

Standard & Poor’s menilai prospek pertumbuhan Indonesia masih solid berkat kebijakan makroekonomi yang berhati-hati. Lembaga itu juga menyoroti beban utang Indonesia yang dikelola secara berkelanjutan.

Prabowo menyatakan penilaian tersebut datang dari lembaga pemeringkat internasional, bukan hanya dari pemerintah. “Ini bukan kata pemerintah, ini bukan kata saya, ini penilaian mereka terhadap kita,” kata Prabowo.

Pertumbuhan ekonomi, peningkatan penerimaan negara, belanja untuk masyarakat, dan defisit yang terkendali menjadi rangkaian indikator yang disampaikan pemerintah. Indikator tersebut juga membentuk konteks bagi penilaian peringkat kredit Indonesia yang tetap stabil.

Baca Juga