Pemerintah Bagi Peran Jakarta dan Bali untuk PFII, Ini Alasan Tahap Awalnya

Pemerintah membagi peran Jakarta dan Bali dalam pengembangan Pusat Finansial Internasional Indonesia atau PFII. Jakarta dipakai sebagai lokasi sementara untuk memulai operasional, sedangkan Bali disiapkan sebagai pusat pengembangan pada tahap berikutnya.

Pembagian itu didasarkan pada kebutuhan untuk mempercepat kerja PFII sekaligus membangun daya tarik bagi investor global. Jakarta dinilai lebih siap untuk menjadi titik awal, sementara Bali masih membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik.

Dua Kota, Dua Fungsi Berbeda

Jakarta ditempatkan sebagai pusat awal operasional agar lembaga dapat segera bergerak. Bali diarahkan untuk memberi nilai tambah melalui daya tarik kawasan dan potensi hubungan dengan kegiatan pariwisata.

AspekJakartaBali
Posisi dalam rencanaLokasi sementaraLokasi pengembangan berikutnya
Fokus utamaMemulai operasional PFIIMenarik investor global
Kondisi pengembanganLokasi telah disiapkanMasih memerlukan infrastruktur fisik

Penempatan Jakarta sebagai titik awal bukan berarti Bali dikeluarkan dari agenda pemerintah. Kedua wilayah justru dirancang dalam pendekatan bertahap untuk menjalankan fungsi yang berbeda.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menyebut Jakarta dan Bali sebagai bagian dari rencana lokasi PFII dalam pidato kenegaraan di DPR. Rencana tersebut kemudian memperjelas arah pengembangan pusat finansial internasional Indonesia di dua wilayah.

Targetnya PFII Segera Bekerja

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan Jakarta dipilih demi menjaga momentum. Arahan Presiden, menurut Rosan, adalah memastikan persiapan yang ada dapat segera diterjemahkan menjadi kerja nyata.

“Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu, kenapa? Karena Bapak Presiden ingin ini semua langsung kerja, ada momentumnya ya,” ujar Rosan saat ditemui di Kantor DJP, Jakarta. Pernyataan tersebut dikutip finance.detik.com.

Pemerintah telah menyiapkan lokasi PFII di Jakarta, tetapi belum mengungkap titik pastinya kepada publik. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan kawasan itu akan diatur secara khusus.

Penjelasan mengenai lokasi detail dan zona khusus akan disampaikan oleh otoritas terkait. Informasi itu menjadi bagian yang masih ditunggu dalam tahap penyiapan PFII di Jakarta.

Alasan Bali Tidak Menjadi Lokasi Pertama

Bali memiliki keunggulan yang dipandang penting oleh investor internasional, tetapi kesiapan fisiknya belum memungkinkan untuk menjadi lokasi awal. Rosan menjelaskan pengembangan di Bali membutuhkan proses pembangunan, termasuk penyediaan infrastruktur fisik.

Di sisi lain, Bali dinilai menawarkan pengalaman yang berbeda bagi investor dibandingkan pusat internasional lain. Aktivitas investor di sana dipandang dapat membawa dampak tambahan bagi sektor pariwisata.

Rosan menyebut investor sasaran PFII umumnya mempunyai daya beli besar. Kehadiran mereka di Bali karena itu berpotensi meningkatkan pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata.

“Kalau di Bali mereka bilang, ini eh ada plus-nya. Jadi begitu kerja, mereka juga bisa, meningkatkan pariwisata di Bali karena mereka mempunyai spending power yang cukup besar, kan, rata-rata gitu,” jelas Rosan.

Dengan skema tersebut, pemerintah mendahulukan kesiapan operasional di Jakarta sambil membangun fondasi bagi pengembangan Bali. Tahap berikutnya di Bali akan bergantung pada proses penyediaan infrastruktur yang masih memerlukan waktu.

Pendekatan ini menggabungkan kebutuhan percepatan kerja lembaga dengan tujuan menarik investor global. Jakarta menjadi langkah awal PFII, sementara Bali disiapkan untuk memperluas nilai ekonomi yang ingin dibangun pemerintah.

Baca Juga