Bank Sentral Berpotensi Tambah Emas, Rotasi Komoditas 2026 Makin Meluas

Potensi menguatnya kembali pembelian emas oleh bank sentral menjadi salah satu faktor yang diperhatikan Morgan Stanley dalam melihat prospek logam mulia. Pada saat yang sama, bank investasi tersebut mencermati rotasi minat investor menuju berbagai sektor komoditas pada 2026.

Perhatian pasar tidak lagi terbatas pada saham emas dan perak. Mike Wilson dari Morgan Stanley melihat pergerakan itu meluas ke logam tanah jarang, energi, serta semikonduktor, yang menurutnya memiliki kesamaan sebagai sektor berbasis komoditas.

Likuiditas Bank Sentral Dorong Rotasi Komoditas

Wilson menilai kebijakan likuiditas bank sentral mendorong rotasi besar menuju sektor komoditas pada 2026. “Semua itu memiliki satu kesamaan. Mereka adalah komoditas,” kata Chief US Equity Strategist sekaligus Chief Investment Officer Morgan Stanley tersebut.

Dalam lanskap itu, emas tetap menjadi aset yang mendapat perhatian khusus. Morgan Stanley menilai logam mulia tersebut telah berada dalam tren bull market selama 25 tahun.

“Emas telah menjadi bull market selama 25 tahun,” ujar Wilson. Pandangan itu tidak menempatkan emas sebagai instrumen pencetak imbal hasil, melainkan aset defensif yang dapat dipertimbangkan saat risiko inflasi meningkat.

Target Harga Tetap Bergantung pada Sentimen Pasar

Morgan Stanley memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 5.200 per ons troi pada paruh kedua 2026. Namun, jalur menuju target tersebut tetap dapat dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga Amerika Serikat dan konflik geopolitik.

Kemungkinan penundaan pemangkasan suku bunga The Fed menjadi salah satu risiko yang dicermati. Arah harga emas juga berkaitan dengan bagaimana pasar merespons perubahan kebijakan moneter dan tingkat ketidakpastian global.

Penggerak PasarHal yang Dicermati Morgan Stanley
Pembelian bank sentralBerpotensi kembali menguat dan mendukung perhatian terhadap emas.
Arus dana ETF emasSensitif terhadap suku bunga, imbal hasil riil, dan dolar AS.
Konflik geopolitikDapat memengaruhi sentimen serta prospek pergerakan harga.

ETF Emas Peka terhadap Suku Bunga dan Dolar

Strategis komoditas Morgan Stanley Amy Gower dan Martijn Rats menyatakan pembelian emas oleh bank sentral berpotensi menguat kembali. Faktor itu menjadi elemen penting dalam menilai prospek permintaan emas.

Sementara itu, arus dana ke ETF emas masih sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, imbal hasil riil, dan pergerakan dolar AS. Artinya, prediksi harga emas tetap tidak dapat dilepaskan dari perubahan sentimen investor terhadap kebijakan moneter.

Portofolio 60/40 Kehilangan Sebagian Fungsinya

Dukungan Wilson terhadap emas juga berkaitan dengan pengalaman pasar pada 2022, ketika saham dan obligasi turun bersamaan. Situasi itu membuat portofolio 60/40 kehilangan sebagian kemampuan diversifikasinya.

Menurut Investor Daily, meningkatnya korelasi antar-aset mendorong investor mencari instrumen yang dapat membantu melindungi nilai portofolio. Emas kemudian diposisikan sebagai salah satu aset defensif ketika perlindungan dari kombinasi saham dan obligasi tidak lagi optimal.

Wilson turut menyebut Bitcoin sebagai aset yang dapat dipertimbangkan untuk menghadapi risiko inflasi. Untuk aset pendapatan tetap, ia menyarankan pengurangan durasi guna membatasi risiko yang terkait dengan suku bunga.

Investor Diminta Menjaga Disiplin

Wilson mengingatkan investor jangka panjang agar tidak membeli saham di puncak harga atau menjualnya pada titik terendah. Ia tetap menyarankan strategi dollar-cost averaging dan diversifikasi portofolio secara konsisten.

Pesan tersebut menekankan pentingnya disiplin ketika pasar mengalami perubahan cepat. Bagi Morgan Stanley, emas tetap relevan sebagai bagian dari perhatian investor di tengah pergeseran perlindungan portofolio dan meluasnya rotasi komoditas.

Baca Juga