Pasar emas memasuki periode dengan dua kemungkinan yang berlawanan, yaitu turun ke US$ 4.186 atau menguat hingga US$ 4.572 per troy ounce dalam sepekan. Arah harga akan dipengaruhi gabungan sentimen geopolitik global, kebijakan moneter Amerika Serikat, dan permintaan aset lindung nilai.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, melihat perubahan sentimen dapat memicu pergerakan tajam sejak perdagangan hari Senin. Harga emas berpotensi berada di US$ 4.279 dalam skenario koreksi atau mencapai US$ 4.479 jika penguatan kembali terjadi.
Rentang Harga yang Perlu Diperhatikan
| Kondisi Pasar | Proyeksi Senin | Proyeksi Sepekan |
|---|---|---|
| Tekanan jual berlanjut | US$ 4.279 per troy ounce | US$ 4.186 per troy ounce |
| Permintaan emas meningkat | US$ 4.479 per troy ounce | US$ 4.572 per troy ounce |
Skenario penurunan muncul apabila tekanan jual kembali mendominasi perdagangan pada awal pekan. Ibrahim menyebut koreksi tersebut dapat meluas dari US$ 4.279 hingga US$ 4.186 per troy ounce.
“Apabila harga emas kembali turun di hari Senin kemungkinan akan ke level US$ 4.279 dan (penurunan) dalam sepekan bisa berlanjut ke US$ 4.186 per troy ounce,” ujar Ibrahim. Sebaliknya, meningkatnya minat pada aset lindung nilai dapat membawa harga menuju level penguatan yang telah diproyeksikan.
Dalam kondisi positif, emas diperkirakan mencapai US$ 4.479 per troy ounce pada hari Senin. Harga kemudian berpeluang bergerak hingga US$ 4.572 per troy ounce dalam sepekan.
Fokus pada Arah Kebijakan The Fed
Kebijakan Federal Reserve menjadi salah satu penentu yang diamati pasar karena berpengaruh pada ekspektasi terhadap ekonomi Amerika Serikat. Ibrahim menyoroti data inflasi utama dan penjualan ritel AS yang positif, meski inflasi belum mencapai sasaran 2%.
Perubahan pandangan pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dapat memengaruhi minat investor pada emas. Faktor ini berjalan bersamaan dengan perkembangan risiko keamanan global.
Bank sentral global juga menjadi unsur pendukung bagi pasar logam mulia. Permintaan emas bank-bank sentral global selama semester pertama disebut mencapai 1.269 ton.
Menurut Ibrahim, pelemahan harga ketika gejolak geopolitik masih berlangsung dapat menjadi acuan bagi bank sentral untuk memperluas cadangan emas. Langkah tersebut berkaitan dengan fungsi emas sebagai instrumen lindung nilai.
Risiko dari Timur Tengah dan Eropa Timur
Situasi di Timur Tengah menjadi sorotan setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat. Donald Trump mengklaim kemenangan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran, sementara Iran mendesak AS mengakui kekalahan.
Risiko lain muncul setelah kelompok militan Houthi di Yaman menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Perkembangan tersebut membuat pasar mencermati potensi gangguan di jalur pelayaran strategis.
Ketidakpastian global juga dipengaruhi konflik di Eropa Timur. Serangan terhadap kota-kota besar Ukraina disebut melemahkan kemampuan militer Ukraina untuk menjalankan serangan balik.
Ibrahim menilai pemanasan situasi geopolitik tanpa blokade di Selat Hormuz dan Laut Merah dapat mendorong kenaikan harga emas. “Kalau seandainya geopolitik memanas tanpa adanya blokade, termasuk di Selat Hormuz dan Laut Merah akan membuat harga emas dunia melonjak tinggi,” katanya.
Dengan rentang proyeksi yang lebar, pasar akan menilai setiap perkembangan konflik dan sinyal kebijakan moneter secara cermat. Analisis pergerakan emas tersebut dilansir Investor Daily.






