Bukan Hanya Tenda dan Air Bersih, NU Jateng Siapkan Pemulihan Trauma Korban Bencana

Penanganan bencana tidak berhenti pada penyediaan tenda, dapur umum, atau air bersih bagi warga terdampak. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah juga mendorong pemulihan psikologis korban melalui pendampingan trauma healing.

Langkah tersebut dipandang penting karena dampak bencana mencakup kondisi mental warga, selain kerusakan fisik dan infrastruktur. NU Peduli melibatkan akademisi dari fakultas psikologi, Fatayat NU, serta komunitas kemanusiaan dalam pendampingan itu.

Kolaborasi lintas pihak diarahkan agar pemulihan korban dapat dilakukan secara menyeluruh. Pendampingan psikologis menjadi salah satu bagian dari kesiapsiagaan bencana yang diperkuat di Jawa Tengah.

Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghoffar Rozin atau Gus Rozin menekankan bahwa kerja kemanusiaan harus melampaui perbedaan kelompok. Penanganan bencana, menurut dia, memerlukan kerja sama tanpa memandang organisasi, ideologi, politik, maupun agama.

“Dalam konteks kemanusiaan, kerja sama antar-elemen masyarakat tanpa memandang kelompok, ideologi, maupun agama harus kita kedepankan. Kemanusiaan adalah fondasi utama,” ujar Gus Rozin.

Dukungan untuk Kebutuhan Lapangan

BPBD Jawa Tengah menyerahkan bantuan simbolis berupa tenda komando dan dapur umum dalam Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah. LAZISNU juga menyalurkan air bersih bagi wilayah yang mengalami kekeringan.

Bantuan tersebut mencerminkan kebutuhan lapangan yang dapat berubah mengikuti musim. Jawa Tengah menghadapi krisis air bersih pada kemarau, sedangkan banjir dan tanah longsor menjadi ancaman pada musim hujan.

PeriodeAncaman UtamaDukungan yang Disorot
Musim kemarauKrisis air bersihPenyaluran air bersih
Musim hujanBanjir dan tanah longsorRespons cepat dan terpadu

Peserta jambore turut melakukan penanaman pohon sebagai langkah mitigasi risiko bencana. Upaya ini melengkapi kesiapan pada tahap pencegahan, sebelum tanggap darurat dan pemulihan dilakukan.

Latihan Menentukan Kecepatan Respons

Gus Rozin menyatakan bahwa kesiapan relawan tidak dapat dibangun secara mendadak ketika ancaman sudah terjadi. Latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas perlu berjalan terus-menerus.

“Respons cepat itu menentukan segala-galanya. Dan kecepatan itu tidak datang tiba-tiba, tetapi lahir dari latihan, simulasi, dan penguatan kapasitas yang dilakukan secara terus-menerus,” tegasnya.

Pesan itu disampaikan dalam jambore yang digelar di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti 418 peserta dari 27 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di Jawa Tengah.

Jambore menjadi sarana penguatan koordinasi relawan di tingkat Jawa Tengah. Kesiapsiagaan diposisikan sebagai kerja bersama, bukan sekadar kegiatan yang dilakukan ketika bencana telah datang.

Pelaporan Bencana Secara Real-Time

Mediaindonesia.com melaporkan bahwa rangkaian kegiatan itu juga mencakup peluncuran NU Risk. Platform digital tersebut dirancang sebagai sistem data terpadu bagi relawan.

NU Risk ditujukan untuk membantu pelaporan kejadian bencana secara real-time. Sistem ini juga dapat menjadi basis data untuk mendukung kerja relawan di lokasi terdampak.

Penguatan data, logistik, kapasitas relawan, dan pendampingan korban menjadi bagian yang saling melengkapi. Pendekatan itu diarahkan agar respons bencana dapat bergerak cepat sekaligus memperhatikan pemulihan warga setelah keadaan darurat.

Baca Juga