AI Buatan Indonesia Ini Mampu Menangkap Risiko Gagal Jantung Kambuh Sebelum Pasien Pulang

Teknologi kecerdasan buatan buatan Indonesia bernama NAVI-HF menawarkan cara baru untuk membantu dokter membaca risiko gagal jantung kambuh sebelum pasien dipulangkan. Dalam penelitian pada 246 pasien gagal jantung akut, alat ini mencatat akurasi 86 persen dengan sensitivitas 91 persen dan spesifisitas 82 persen dibandingkan Lung Ultrasound sebagai acuan.

Hasil itu menunjukkan potensi besar NAVI-HF sebagai alat skrining awal di layanan jantung. Lebih jauh, pemantauan selama enam bulan menemukan pasien dengan hasil pemeriksaan NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.

Cara kerja NAVI-HF

NAVI-HF merupakan singkatan dari Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure. Teknologi ini dikembangkan oleh dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, dokter spesialis jantung konsultan kardiovaskular intervensi di Primaya Hospital Tangerang.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari penelitian disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Berbeda dari stetoskop biasa, NAVI-HF merekam suara dada pasien dari lima titik pemeriksaan selama sekitar satu menit, lalu menganalisisnya dengan algoritma AI untuk mendeteksi tanda-tanda penumpukan cairan di paru.

Mengisi celah pemeriksaan konvensional

Selama ini, deteksi kongesti paru umumnya mengandalkan Lung Ultrasound atau pemeriksaan darah NT-proBNP. Kedua metode itu membutuhkan alat khusus, biaya lebih besar, dan tenaga kesehatan yang terlatih.

Di sisi lain, gagal jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian dan rawat ulang yang tinggi di Indonesia. Salah satu masalah yang sering luput adalah penumpukan cairan di paru-paru yang belum terdeteksi sebelum pasien meninggalkan rumah sakit.

MetodeCara KerjaKeterangan
NAVI-HFMerekam suara dada dari lima titik selama sekitar satu menit lalu dianalisis AIDirancang untuk membantu deteksi risiko kekambuhan gagal jantung
Lung UltrasoundPemeriksaan pencitraan untuk melihat kongesti paruMenjadi standar acuan dalam penelitian
NT-proBNPPemeriksaan darahUmumnya digunakan untuk mendeteksi kongesti paru

Karena itu, NAVI-HF dikembangkan sebagai alat yang sederhana, portabel, dan berbasis AI. Tujuannya adalah membantu dokter menentukan apakah pasien masih perlu pemantauan intensif atau penyesuaian terapi sebelum pulang.

Berpeluang mendukung pemantauan jarak jauh

Ke depan, NAVI-HF juga dinilai berpotensi mendukung layanan telemedicine dan pemantauan pasien dari rumah. Dengan pendekatan itu, kondisi pasien dapat terus dipantau tanpa harus selalu datang ke rumah sakit.

Menurut www.suara.com, pemanfaatan kecerdasan buatan di dunia medis terus berkembang, termasuk di bidang kardiologi. NAVI-HF menjadi salah satu contoh bagaimana AI dapat membantu meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus mengurangi beban layanan kesehatan di Indonesia.

dr. Rony berharap inovasi ini dapat mendukung deteksi yang lebih dini, membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, dan mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung. Di tengah tingginya beban gagal jantung, teknologi semacam ini membuka peluang pemantauan yang lebih efisien dan lebih mudah dijangkau pasien.

Baca Juga