Mimpi Jadi Pesepak Bola Profesional Dimulai dari Disiplin, Bukan Fasilitas Mewah

Keterbatasan fasilitas tidak harus menghentikan mimpi anak untuk menjadi pesepak bola profesional. Mantan pemain Persib Bandung, Atep, menekankan bahwa kesuksesan dibangun melalui disiplin latihan, kemauan belajar, dan ketekunan.

Pandangan tersebut sejalan dengan pesan pelatih tim nasional Indra Sjafri dalam McDonald’s Football Clinic. Ia menilai perjalanan pemain muda tidak cukup ditopang oleh kemampuan menendang atau menggiring bola.

Proses Lebih Penting daripada Jalan Instan

Atep menceritakan bahwa dirinya memulai perjalanan dari kota kecil dengan akses fasilitas yang terbatas. Kondisi itu tidak menghalanginya untuk menjaga tekad mengejar karier sebagai pemain profesional.

“Tidak ada proses yang instan, setiap kesuksesan dibangun dari disiplin berlatih, kemauan untuk terus belajar, dan tidak lupa beribadah.”

Contoh serupa terlihat pada Purnama, kapten tim SSB Youth Aurasic Bandung. Ia rutin berlatih sejak usia delapan tahun di lapangan sederhana yang berada di samping warung makan milik orang tuanya.

Ayah Purnama, Heri Mulyana, menilai kesempatan putranya berlatih bersama Indra Sjafri menambah keyakinan untuk terus bekerja keras. Bagi keluarga tersebut, disiplin menjadi jalan untuk menjaga mimpi di tengah kondisi yang sederhana.

Program ini diikuti 200 anak berusia 8-12 tahun yang mendapat kesempatan belajar bersama pelatih tim nasional. Sebanyak 40 anak dari komunitas prasejahtera juga memperoleh akses gratis, termasuk jersey dan sepatu baru.

Rumah dan Lapangan Sama Pentingnya

Indra Sjafri memandang dukungan keluarga sebagai unsur penting dalam pembinaan pemain muda. Ia berdialog dengan orang tua peserta mengenai perlunya motivasi dan arahan yang konsisten di rumah.

Orang tua didorong untuk mendukung anak tanpa mengabaikan pembentukan rasa percaya diri. Sikap sportif dan penghargaan terhadap orang lain juga perlu dibiasakan, terutama ketika anak menghadapi kegagalan atau kesulitan berlatih.

Pembinaan yang berkelanjutan tidak berakhir setelah anak meninggalkan lapangan latihan. Lingkungan keluarga ikut membantu anak memahami bahwa perkembangan kemampuan membutuhkan proses yang panjang.

Minat terhadap olahraga lapangan menunjukkan bahwa pembinaan semacam ini memiliki konteks yang luas. Survei Populix pada Maret 2026 mencatat 90 persen Gen Z dan Milenial tertarik pada olahraga berbasis lapangan, dengan sepak bola sebagai salah satu olahraga yang digemari.

Teknik dan Karakter Diuji Bersamaan

Dalam sesi selama 70 menit, peserta dibagi ke beberapa kelompok dan menjalani latihan secara bergiliran. Pola ini memungkinkan anak mempelajari kemampuan dasar sambil berlatih berkoordinasi serta mengambil keputusan.

Indra menjelaskan bahwa metode latihan tidak dapat diterapkan secara seragam kepada semua anak. Tahap perkembangan yang berbeda membutuhkan penyesuaian agar penguasaan teknik dapat tumbuh secara bertahap.

MateriTujuan Latihan
PassingMengasah kemampuan mengoper bola
Small-Sided Games dan shootingMengenal permainan kecil dan penyelesaian peluang
ShieldingBelajar melindungi bola saat menghadapi lawan

Rangkaian latihan itu menjadi bagian dari pembinaan pemain muda yang tidak hanya mengejar penguasaan teknik. Anak juga diarahkan untuk memahami kerja sama dan respons yang tepat dalam permainan.

Indra menegaskan bahwa karakter harus menyertai kemampuan teknis. Disiplin, tanggung jawab, sportivitas, dan rasa hormat dipandang sebagai bekal yang perlu dibawa anak saat bertanding maupun dalam kehidupan sehari-hari.

“Dalam olahraga memang harus ada jiwa kompetitif, tetapi menang bukanlah tujuan akhir. Setiap kemenangan harus diraih dengan cara-cara yang baik,” tegas Indra.

Pernyataan Indra Sjafri tersebut menempatkan kemenangan sebagai bagian dari proses, bukan satu-satunya tujuan. Anak tetap perlu memiliki semangat kompetitif, tetapi harus memahami batas etika dalam mengejar hasil.

McDonald’s Football Clinic digelar sebagai bagian dari kampanye FIFA World Cup Goes to McDonald’s dan perayaan 35 tahun McDonald’s Indonesia. Kegiatan ini sebelumnya berlangsung di Jakarta bersama Rio Fahmi, lalu dilanjutkan di Bandung dengan keterlibatan Atep.

Baca Juga