Meta dan Nvidia memilih membuka akses teknologi AI di tengah persaingan sengit dengan pengembang China. Langkah ini membuat bobot model, dan dalam kasus Nvidia juga dataset serta teknik pelatihan, dapat diperiksa dan dikembangkan oleh komunitas.
Perubahan pendekatan tersebut menjadi penting karena pasar AI selama ini kuat dipengaruhi model tertutup dari OpenAI dan Anthropic. Model dengan bobot terbuka kini diposisikan sebagai sarana memperluas penggunaan AI sekaligus menjaga daya saing Amerika Serikat.
Model yang Dibuka Meta dan Nvidia
Meta memperkenalkan Muse Glimmer untuk memperkuat ekosistem model terbuka. Perusahaan juga menyatakan akan membuka bobot Muse Spark 1.2, yang memungkinkan pengembang mempelajari dan menyesuaikan perilaku model itu.
Bobot atau weights merupakan parameter yang menentukan cara sebuah model AI memproses informasi dan menghasilkan respons. Ketersediaan bobot memberi ruang bagi pengembang untuk menyesuaikan model dengan kebutuhan penggunaan tertentu.
Sehari setelah pengumuman Meta, Nvidia merilis Nemotron 3.5 Lightning. Model tersebut merupakan bagian dari keluarga Nemotron 3 yang pertama kali diperkenalkan pada Desember tahun sebelumnya.
| Perusahaan | Model | Materi yang Dibuka |
|---|---|---|
| Meta | Muse Glimmer dan Muse Spark 1.2 | Bobot Muse Spark 1.2 |
| Nvidia | Nemotron 3.5 Lightning | Dataset, teknik pelatihan, dan bobot model |
Nvidia menyebut pendekatannya sebagai keterbukaan yang lebih menyeluruh karena tidak terbatas pada bobot model. Dataset pelatihan dan teknik yang dipakai untuk membangun model juga dirilis agar proses pengembangannya dapat ditelaah.
Persaingan dengan Pengembang China
Strategi Meta dan Nvidia menempatkan keduanya dalam kompetisi langsung dengan Model AI China seperti DeepSeek, Moonshot AI, dan Qwen milik Alibaba. Para pengembang China lebih dahulu menunjukkan bahwa model yang dapat diakses luas mampu menarik minat komunitas pengembang.
Model baru dari kedua perusahaan AS itu juga dirancang berukuran lebih kecil sehingga dapat berjalan di laptop. Kemampuan tersebut diarahkan untuk mendukung agen digital yang beroperasi langsung di perangkat pengguna.
CNBC Indonesia, yang mengutip CNBC International, melaporkan bahwa peluncuran ini berlangsung setelah sejumlah raksasa teknologi AS meminta pemerintah tidak membatasi model AI berbobot terbuka terlalu dini. Permintaan itu juga berkaitan dengan kekhawatiran atas kemungkinan pembatasan terhadap model yang berasal dari China.
Dalam surat terbuka yang dirilis pada 24 Juli, konsorsium perusahaan teknologi menilai AI berbobot terbuka dapat memperkuat posisi Amerika Serikat. Mereka menilai kebijakan yang tepat bisa memperluas peluang dan menjaga persaingan tetap terbuka.
“Era AI bisa menjadi era kemakmuran. Dengan pilihan kebijakan yang tepat, AI open-weight dapat memperluas peluang, memperkuat persaingan, memperpanjang kepemimpinan teknologi Amerika, mengurangi risiko, dan memastikan manfaat teknologi luar biasa ini dibagikan secara luas di seluruh perekonomian.”
Keamanan dan Kekayaan Intelektual
Keterbukaan model AI tetap memunculkan perdebatan di Silicon Valley dan Washington. Pengkritik menilai model AI dari China dapat membawa risiko keamanan nasional bila digunakan tanpa pengawasan yang memadai.
Perdebatan lain menyangkut distillation, yaitu teknik pelatihan yang digunakan untuk peningkatan, evaluasi, dan validasi model. Sebagian pihak menganggap praktik itu berpotensi menyerupai pencurian kekayaan intelektual, sementara pelaku industri menyebutnya sebagai metode yang digunakan secara luas.
Pendukung keterbukaan berpendapat pembatasan berlebihan justru berisiko memusatkan kekuatan AI pada segelintir perusahaan besar. Mereka menilai Amerika Serikat memerlukan model terbuka yang mampu bersaing tanpa menutup akses inovasi.
CEO Box Aaron Levie menilai Muse Spark 1.2 sebagai model yang sangat kuat dan mampu menyaingi model papan atas dari Anthropic serta OpenAI. Persaingan berikutnya akan bergantung pada kemampuan Meta dan Nvidia menarik pengguna di tengah popularitas DeepSeek, Moonshot AI, dan Qwen.






