Makanan ultraolahan, minuman manis, garam, dan gula berlebih dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan metabolisme yang membebani ginjal. Rangkaian risiko itu menjadi konteks penting dalam kisah Muhd Idzwan Syafiq Mohd Johari, pria Malaysia yang pernah didiagnosis penyakit ginjal stadium akhir.
Idzwan sebelumnya memiliki berat badan hingga 190 kilogram dan menjalani kebiasaan makan yang kurang memperhatikan kualitas nutrisi. Setelah mengubah pola hidup, berat badannya turun sekitar 55 kilogram dalam enam bulan dan kondisi ginjalnya dilaporkan membaik hingga stadium tiga.
Bagaimana Obesitas Mempengaruhi Ginjal
Obesitas dapat membuat ginjal bekerja lebih keras karena tubuh membutuhkan proses metabolisme yang lebih besar. Beban tambahan itu dapat meningkatkan jumlah darah yang harus disaring oleh ginjal melalui glomerulus.
Glomerulus adalah unit penyaring kecil yang berperan membersihkan darah di dalam ginjal. Tekanan berlebih yang terjadi terus-menerus dapat memicu hiperfiltrasi dan berpotensi menurunkan kemampuan penyaringan dalam jangka panjang.
| Mekanisme | Penjelasan Singkat | Pengaruh pada Ginjal |
|---|---|---|
| Hiperfiltrasi glomerulus | Ginjal menyaring darah lebih banyak | Glomerulus dapat rusak perlahan |
| Peradangan kronis | Jaringan lemak melepas zat pemicu inflamasi | Fibrosis dapat lebih cepat terbentuk |
| Stres oksidatif | Radikal bebas meningkat dalam tubuh | Sel ginjal dapat terganggu |
| Resistensi insulin | Respons terhadap insulin menurun | Risiko diabetes tipe 2 meningkat |
Nature Reviews Nephrology pada 2017 menyebut hiperfiltrasi glomerulus sebagai salah satu mekanisme utama yang menjelaskan hubungan obesitas dengan penyakit ginjal kronis. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masalah berat badan dapat berdampak pada organ penyaring darah, terutama bila berlangsung lama.
Peradangan dan Gangguan Metabolisme
Jaringan lemak pada obesitas dapat menghasilkan sitokin proinflamasi yang memicu peradangan tingkat rendah secara terus-menerus. Peradangan tersebut berpotensi merusak jaringan ginjal dan mendorong terbentuknya fibrosis atau jaringan parut.
Pola makan tinggi gula dan lemak jenuh juga dapat meningkatkan radikal bebas. Jika jumlahnya melebihi kemampuan antioksidan tubuh, stres oksidatif dapat mengganggu sel ginjal serta pembuluh darah kecil di sekitarnya.
Kelebihan berat badan berkaitan pula dengan risiko resistensi insulin. Kondisi ini dapat meningkatkan kadar gula darah dan memperbesar kemungkinan diabetes tipe 2, yang dikenal sebagai salah satu penyebab utama penyakit ginjal kronis.
Data Frontiers in Nutrition pada 2024 menemukan kelompok dengan konsumsi makanan ultraolahan tertinggi memiliki risiko penyakit ginjal kronis 18 persen lebih tinggi dibanding kelompok dengan konsumsi terendah. Kenaikan konsumsi makanan ultraolahan sebesar 10 persen dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 7 persen.
Perjalanan Idzwan Mengubah Kebiasaan
Sebelum memperbaiki pola hidup, Idzwan terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, minuman manis, saus, garam, gula, dan perasa buatan. Ia mengaku sebelumnya tidak memberi perhatian besar pada kualitas nutrisi dalam menu sehari-hari.
Masalah kesehatannya bertambah setelah ia jatuh dan mengalami cedera tulang belakang pada 2019. Saat itu berat badannya sekitar 150 kilogram, lalu ia harus lebih banyak terbaring selama kurang lebih tiga tahun.
Selain obesitas, ia mengalami asam urat dan pembekuan darah di paru-paru sebelum menerima diagnosis penyakit ginjal stadium akhir. Pada November 2023, ia sempat menjalani enam kali dialisis sebelum tindakan itu dihentikan akibat infeksi bakteri.
Setelah diagnosis, ia mulai memperbanyak sayuran dan menghindari makanan olahan. Ia juga membatasi asupan gula serta protein hewani sebagai bagian dari perubahan gaya hidup yang dijalankannya.
Langkah Dasar untuk Menjaga Ginjal
Pilihan makanan sehari-hari dapat diarahkan dengan mengurangi makanan cepat saji, daging olahan, camilan tinggi garam, minuman berpemanis, dan produk tinggi natrium. Buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein yang lebih sehat dapat menjadi alternatif.
Menjaga berat badan, rutin berolahraga, tidak merokok, dan memenuhi kebutuhan cairan merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat. Pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala dianjurkan bagi orang dengan obesitas, diabetes, atau hipertensi agar gangguan dapat dideteksi lebih dini.






