Akses pembiayaan saja belum cukup untuk membuat usaha ultra mikro bertahan di tengah persaingan yang semakin luas. Pelaku usaha perlu mampu membaca pasar, mengatur arus kas, memahami risiko, serta menata langkah pengembangan bisnis.
Karena itu, PNM dan OJK di Aceh mendorong pembiayaan yang berjalan beriringan dengan pendampingan. Sasaran utamanya adalah perempuan pengusaha ultra mikro agar lebih siap mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.
Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, menempatkan literasi keuangan sebagai unsur penting dalam proses tersebut. Ia menilai literasi keuangan syariah memiliki relevansi kuat bagi masyarakat Aceh.
“Pembiayaan perlu berjalan beriringan dengan literasi keuangan yang tepat. Termasuk literasi keuangan syariah yang sangat relevan dengan Aceh,” ujar Lalu Dodot Patria Ary.
Pembinaan Menyasar Pengelolaan Usaha
Melalui pendampingan, nasabah didorong agar tidak hanya memakai dana sebagai tambahan modal kerja. Mereka juga dibekali pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, penyusunan rencana usaha, dan peluang pasar yang dapat dijangkau.
Pendekatan tersebut menempatkan pembiayaan sebagai awal dari proses penguatan usaha. Kemampuan manajerial menjadi penting karena produk yang diminati pasar tetap memerlukan pengelolaan yang baik agar usahanya dapat berlanjut.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengingatkan pelaku UMKM agar tidak merasa rendah diri bila merintis usaha dari dapur rumah tangga. Menurutnya, kepercayaan diri perlu berjalan bersama kemampuan menentukan target pasar dan mengatur keuangan.
“Jangan merasa berkecil hati jika usaha mulai dari dapur rumah tangga. Kita jual produk kita sendiri, kita harus percaya, dan harus cerdas mengelola keuangan, mulai dari menentukan target pasarnya,” ujar Illiza.
Ia turut mengingatkan risiko ketika popularitas produk tidak diikuti manajemen yang memadai. “Produk yang viral tanpa manajemen yang baik hanya akan bertahan sesaat. Percuma viral kalau tidak dikelola dengan baik,” kata Illiza.
Ratusan Ribu Nasabah dalam Jaringan Mekaar
Hingga 31 Juli 2026, PNM Mekaar di Aceh telah melayani 268.231 nasabah. Jangkauan tersebut ditopang kelompok nasabah, pendamping, dan unit pelayanan di berbagai wilayah Aceh.
| Indikator Pendampingan di Aceh | Jumlah |
|---|---|
| Nasabah PNM Mekaar | 268.231 nasabah |
| Kelompok nasabah | 19.628 kelompok |
| Pendamping Mekaar | 1.300 pendamping |
| Unit pelayanan | 77 unit |
| Nasabah memperoleh bantuan NIB | Lebih dari 56.714 nasabah |
| Anak nasabah menerima beasiswa | 104 anak |
Pendampingan juga mencakup pengurusan legalitas bagi usaha rumahan. Lebih dari 56.714 nasabah telah dibantu mendapatkan NIB, sedangkan sejumlah nasabah lainnya telah memiliki sertifikat halal.
Dokumen tersebut dapat membantu pelaku usaha membangun kepercayaan konsumen dan menyiapkan perluasan pasar. PNM juga memberikan beasiswa kepada 104 anak nasabah sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan keluarga.
Contoh Usaha yang Mulai Tertata
Nur Asma, pemilik usaha Keripik Pisang Kak Nur, menunjukkan bagaimana pembiayaan dapat dilengkapi pembinaan. Ia adalah orang tua tunggal dengan tiga anak yang telah merintis usaha sejak 2016.
Setelah bergabung sebagai nasabah PNM Mekaar Syariah pada 2024, usahanya kini berada pada grade A. Nur Asma memperoleh plafon pembiayaan Rp6 juta serta telah memiliki NIB dan sertifikat halal melalui pendampingan PNM.
Potensi usaha perempuan di Banda Aceh sendiri masih terbuka di banyak bidang. Lebih dari 4.400 unit usaha di kota itu bergerak pada sektor pertanian, kelautan dan perikanan, pariwisata, kuliner, jasa, perdagangan, hingga industri pengolahan.
Sinergi PNM dan OJK mengarah pada penguatan pelaku usaha dari sisi dana dan kemampuan mengelola bisnis. Dengan bekal literasi, legalitas, serta pendampingan, usaha ultra mikro memiliki ruang lebih besar untuk berkembang secara tertib.






