Jaringan lemak yang sehat membantu tubuh menjaga keseimbangan metabolisme setiap hari. Ketika sel lemak mengalami gangguan berat, dampaknya dapat meluas dari pengolahan lipid hingga pengendalian gula darah.
Hal ini memperlihatkan bahwa lemak bukan sekadar timbunan cadangan energi. Kondisi jaringan adiposa juga ikut menentukan bagaimana tubuh mengatur hormon dan menjalankan fungsi metaboliknya.
Sel lemak tidak hanya menyimpan energi
Jaringan Lemak merupakan organ metabolik aktif yang menghasilkan hormon. Jaringan ini juga membantu tubuh menyimpan energi dan mengatur metabolisme harian.
Karena perannya luas, masalah metabolik tidak hanya muncul akibat penumpukan lemak berlebih. Kehilangan lemak secara abnormal juga dapat membawa risiko yang sama seriusnya.
Contoh kondisi tersebut terlihat pada lipodistrofi parsial familial tipe 2 atau FPLD2. Kelainan genetik langka ini menyebabkan hilangnya lemak secara tidak normal serta dapat diikuti diabetes dan gangguan metabolik lain.
Model tikus menunjukkan kerusakan berantai
Peneliti mempelajari gangguan tersebut dengan model tikus yang gen lamin A/C-nya dimatikan khusus pada adiposit. Gen yang sama diketahui mengalami mutasi pada orang dengan FPLD2.
Pengamatan pada sampel jaringan menunjukkan perubahan besar dalam aktivitas gen sel lemak. Perubahan itu mengganggu kemampuan normal adiposit dalam mengolah serta menyimpan lipid.
| Temuan pada adiposit | Konsekuensi yang terlihat |
|---|---|
| Gangguan aktivitas gen | Fungsi pengolahan dan penyimpanan lipid menurun |
| Pergeseran sel lemak dan imun | Jaringan menjadi pro-inflamasi |
| Fungsi mitokondria melemah | Pasokan energi sel terganggu |
| Kerusakan terus berkembang | Jaringan lemak dapat rusak dan menghilang |
Jessica Maung, PhD, menggambarkan dampak itu sebagai masalah besar yang terjadi di seluruh adiposit. “Penjelasan sederhananya adalah bahwa semua sel lemak (adiposit) mengalami hal-hal yang benar-benar katastropik di dalamnya,” ungkap Maung.
Lingkungan jaringan berubah menjadi tidak sehat
Gangguan penyimpanan lipid hanya menjadi salah satu bagian dari masalah yang diamati. Sel lemak dan sel imun sama-sama bergeser menuju keadaan pro-inflamasi di dalam jaringan.
Mitokondria, yang memasok energi bagi sel, juga tidak lagi berfungsi dengan baik. Kombinasi peradangan dan gangguan energi ini membentuk lingkungan yang merusak jaringan adiposa.
Beritasatu.com melaporkan bahwa kerusakan tersebut dapat berlangsung progresif. Dalam kondisi berlanjut, jaringan lemak bisa mengalami kerusakan hingga akhirnya menghilang.
Kaitan dengan diabetes dan hati berlemak
Dr Elif Oral, MD, Profesor di Divisi Metabolisme, Endokrinologi, dan Diabetes, menilai lemak sehat penting bagi kestabilan metabolisme. Kehilangan jaringan lemak dapat mengganggu pengendalian lipid serta hormon yang dibutuhkan tubuh.
“Orang-orang menganggap diabetes Tipe 2 sebagai penyakit sel beta, padahal sebenarnya itu juga merupakan penyakit sel lemak,” kata Oral. Sel beta pankreas memproduksi insulin, tetapi kondisi adiposit turut berperan dalam kendali gula darah.
Hubungan ini memperluas pemahaman tentang Diabetes Tipe 2 sebagai gangguan yang tidak hanya berpusat pada pankreas. Kerusakan jaringan adiposa juga berkaitan dengan masalah sistemik, termasuk penyakit hati berlemak atau fatty liver, terutama pada pasien Lipodistrofi.
Peneliti melihat peluang untuk menemukan target terapi yang dapat melindungi jaringan lemak sebelum fungsinya merosot sepenuhnya. Prof Ormond MacDougald, PhD, menekankan pentingnya kerja bersama antara peneliti sains dasar, peneliti klinis translaksional, dan pasien yang terlibat dalam studi.






