Wilayah Kurdistan Irak telah mengalami lebih dari 1.000 serangan drone dan rudal sejak Februari hingga awal Agustus. Dalam rangkaian ancaman itu, dua drone peledak kembali menyasar kawasan Pirmam di Provinsi Hawler pada Senin, 17 Agustus 2026.
Serangan terbaru berlangsung sekitar pukul 00.28 waktu setempat dan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, targetnya mencakup kantor pribadi Perdana Menteri KRG Masrour Barzani dan kediaman kepala Parastin Agency.
Rekam Jejak Serangan dan Korban
Pemerintah Kurdistan mencatat serangan yang dikaitkan dengan Iran dan kelompok milisi yang didukungnya telah menewaskan 32 orang. Sebanyak 154 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka hingga awal Agustus.
Data tersebut menggambarkan tekanan keamanan yang terus berulang di Kurdistan Irak. Serangan di Pirmam menambah daftar insiden yang menempatkan kawasan pemerintahan dan keamanan KRG dalam risiko.
Ancaman drone juga muncul di atas Erbil pada Jumat pekan sebelumnya. Pasukan Koalisi Global pimpinan Amerika Serikat mencegat tiga drone bermuatan bom antara pukul 02.17 dan 02.25 waktu setempat.
Direktorat Jenderal Anti Terorisme Erbil menyatakan pencegatan itu tidak menyebabkan korban jiwa. Insiden tersebut memperlihatkan bahwa serangan dapat digagalkan, tetapi ancaman terhadap wilayah perkotaan dan fasilitas penting tetap ada.
| Catatan Keamanan | Periode atau Waktu | Rincian | Dampak |
|---|---|---|---|
| Serangan drone dan rudal | Sejak Februari hingga awal Agustus | Lebih dari 1.000 serangan | 32 tewas, 154 luka-luka |
| Serangan di Pirmam | 17 Agustus 2026, 00.28 | Dua drone Hadid-110 | Tidak ada korban jiwa |
Target Strategis di Pirmam
Dinas Anti-Terorisme Kurdistan atau CTS menyebut dua drone yang menyerang Pirmam merupakan tipe Hadid-110. Menurut CTS, drone tersebut diluncurkan dari wilayah perbatasan Iran.
Pirmam berada di Provinsi Hawler dan memiliki hubungan dengan pusat pemerintahan serta keamanan KRG. Kantor pribadi Masrour Barzani dan kediaman kepala Parastin Agency menjadi dua lokasi yang disebut dalam laporan insiden.
Masrour Barzani menyatakan serangan tersebut memiliki dampak yang melampaui dua titik sasaran. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut insiden itu sebagai “langkah berbahaya dan ancaman langsung terhadap keamanan serta stabilitas Wilayah Kurdistan”.
Tidak adanya korban jiwa dalam serangan terbaru tidak mengurangi nilai strategis sasaran yang dituju. Serangan terhadap lingkungan pemerintahan dan intelijen menambah kekhawatiran atas kemampuan perlindungan fasilitas penting KRG.
Upaya Mengendalikan Senjata Milisi
Kelompok milisi bersenjata yang didukung Iran membantah keterlibatan dalam serangan di Erbil. Kadhim al-Fartousi dari Kata’ib Sayyid al-Shuhada mengatakan, “[Serangan] itu tidak dilakukan oleh kelompok kami.”
Al-Fartousi juga menyebut adanya kesepakatan parsial untuk tidak menjalankan operasi atau serangan saat ini. Ia mengatakan respons terhadap serangan Arab Saudi juga perlu ditunda.
Pemerintah pusat Irak sedang berupaya mengambil alih kendali atas seluruh senjata kelompok milisi untuk mengintegrasikan keamanan nasional. Otoritas Wilayah Kurdistan mendukung penuh upaya tersebut.
Serangan di Pirmam terjadi ketika pengendalian persenjataan milisi masih berjalan dan ancaman drone belum mereda. Perkembangan ini menjaga isu keamanan Erbil, Hawler, dan fasilitas KRG tetap berada dalam sorotan.






