Di Balik Laba Rp30,4 Triliun Bank Mandiri, Ada Tekanan Margin dan Likuiditas

Laba bersih Bank Mandiri mencapai Rp30,4 triliun pada semester I-2026, naik 24,4 persen secara tahunan. Namun, hasil positif tersebut dibayangi margin bunga bersih konsolidasi yang berada di level 4,56 persen.

Tekanan margin muncul ketika biaya dana meningkat, meski dana murah masih menjadi sumber pendanaan terbesar perseroan. Situasi ini membuat pasar perlu menimbang pertumbuhan laba bersama risiko likuiditas dan kualitas aset.

Biaya Dana Menggerus Ruang Margin

Rasio CASA Bank Mandiri tercatat 69,2 persen dan masih mendominasi dana pihak ketiga. Meski begitu, peningkatan deposito berjangka serta penyesuaian bunga simpanan mendorong biaya pendanaan lebih tinggi.

Biaya dana yang naik mempersempit ruang Margin Bunga Bersih bagi perseroan. Tekanan tersebut juga berkaitan dengan pertumbuhan kredit yang lebih banyak datang dari segmen korporasi dan komersial.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut komposisi kredit wholesale dapat menekan imbal hasil kredit. Segmen skala besar memang mendukung ekspansi portofolio, tetapi tingkat pengembaliannya turut memengaruhi hasil bunga secara keseluruhan.

“Pertumbuhan kredit BMRI terutama didorong segmen korporasi dan komersial. Namun, komposisi kredit yang lebih banyak berasal dari segmen skala besar (wholesale) memberikan tekanan terhadap imbal hasil kredit,” tulis Liza dalam risetnya pada Minggu (16/8/2026).

Ekspansi Kredit Tetap Kuat

Total kredit Bank Mandiri telah mencapai Rp1.677 triliun pada akhir semester pertama 2026. Penyaluran itu tumbuh 19,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan naik 3,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan pada segmen korporasi dan komersial menjadi salah satu mesin utama ekspansi tersebut. Kinerja kredit dua digit ini mendukung pembentukan laba, meski tidak menghilangkan tantangan pada margin bunga.

IndikatorRealisasi Semester I-2026Keterangan
Laba bersihRp30,4 triliunNaik 24,4% tahunan
Penyaluran kreditRp1.677 triliunNaik 19,2% tahunan
PPOPNaik 19,9%
CASA69,2%Dana pihak ketiga dominan
Margin bunga bersih4,56%Terjadi pengetatan

PPOP Menjadi Penopang Kinerja

Selain pertumbuhan kredit, laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP ikut memperkuat hasil Bank Mandiri. Investor Daily melaporkan PPOP meningkat 19,9 persen dalam periode yang sama.

Penguatan operasional membantu perseroan membukukan kenaikan laba di tengah peningkatan biaya pendanaan. Liza menilai pertumbuhan pendapatan non-bunga dan pengelolaan beban yang terukur menjadi pilar penting bagi kinerja berikutnya.

“Dengan demikian, meskipun pertumbuhan kredit dan laba masih kuat, biaya pendanaan menjadi salah satu titik tekanan utama bagi profitabilitas BMRI,” jelas Liza. Kondisi tersebut menempatkan pengelolaan struktur dana sebagai bagian penting dari perhatian investor.

Rekomendasi dan Risiko Saham

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk Saham BMRI dengan target harga 12 bulan Rp5.400 per lembar. Sasaran itu mencerminkan potensi kenaikan 29,5 persen dari posisi penutupan terakhir dengan proyeksi P/BV 1,5 kali pada 2026.

Stockbit Sekuritas mencatat PE trailing twelve months BMRI berada pada 6,2 kali. Risiko yang tetap perlu diperhatikan mencakup tekanan margin berkepanjangan, likuiditas ketat, perlambatan kredit, serta potensi penurunan kualitas aset di sektor ritel.

<<>>

Baca Juga