Kredit Korporasi BCA Melonjak 13,6%, Risiko Margin Tetap Membayangi BBCA

Kredit korporasi BCA tumbuh 13,6% secara tahunan menjadi Rp 513,4 triliun pada semester I-2026. Lonjakan pada segmen tersebut menjadi penopang utama pertumbuhan total kredit PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA.

Total kredit BCA mencapai Rp 1.035,6 triliun, naik 8% secara tahunan dan 4,2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Di sisi lain, pertumbuhan kredit konsumer melambat karena pembiayaan kendaraan bermotor tidak sekuat segmen korporasi.

Profitabilitas Bertahan Meski NIM Tertekan

Pertumbuhan penyaluran kredit berlangsung saat BCA menghadapi tekanan margin bunga bersih atau NIM. Meski demikian, laba bersih pada semester I-2026 tetap meningkat 1,8% secara tahunan menjadi Rp 29,5 triliun.

Laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP naik 2,5% secara tahunan. Pendapatan non-bunga yang kuat membantu membatasi dampak pelemahan pendapatan bunga bersih terhadap hasil usaha bank.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut pertumbuhan laba itu menunjukkan ketahanan BCA. “Laba bersih BCA (BBCA) pada semester I-2026 masih resilien, dengan pertumbuhan 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau secara tahunan (year on year/yoy),” ujar Liza.

Indikator KinerjaPosisiPertumbuhan/Keterangan
Laba bersihRp 29,5 triliunNaik 1,8% yoy
PPOPNaik 2,5% yoy
Total kreditRp 1.035,6 triliunNaik 8% yoy
Kredit korporasiRp 513,4 triliunNaik 13,6% yoy

CASA dan Kualitas Pembiayaan

Dari sisi pendanaan, dana giro dan tabungan atau CASA mencapai Rp 1.082,3 triliun. Nilai CASA bertumbuh 10,2% secara tahunan, walaupun total simpanan melemah secara kuartalan.

Pertumbuhan dana murah menjadi salah satu elemen yang diperhatikan dalam menilai kemampuan bank menghadapi tekanan margin. Persaingan penghimpunan dana tetap dapat menjadi tantangan bagi struktur pendanaan ke depan.

Kualitas aset BCA masih berada dalam kondisi terkendali pada semester pertama tahun ini. Rasio kredit bermasalah bruto atau NPL tercatat 1,9%, sedangkan rasio kredit berisiko atau LAR berada pada 4,9%.

Kiwoom Pertahankan Rekomendasi Beli

Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.075 dalam 12 bulan. Penetapan valuasi dilakukan dengan menggabungkan metode price to book value atau P/BV dan dividend discount model atau DDM.

Penilaian positif Kiwoom bertumpu pada ketahanan laba, dana murah, dan pemulihan kredit korporasi. Namun, sekuritas tersebut juga mencatat tekanan NIM yang berkepanjangan dan perlambatan pertumbuhan kredit sebagai risiko.

Risiko lain yang dipantau mencakup persaingan ketat penghimpunan dana, kenaikan biaya kredit, serta potensi memburuknya kualitas aset. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kemampuan BCA menjaga pertumbuhan dan profitabilitasnya.

Saham Menguat saat Indeks Terkoreksi

Di pasar saham, BBCA menguat 0,39% ke Rp 6.375 pada perdagangan 13 Agustus 2026. Kenaikan itu terjadi ketika IHSG turun 1,13% pada hari yang sama.

Minat beli investor asing terhadap BBCA tercatat mencapai Rp 129,43 miliar. Nilai transaksi sahamnya mencapai Rp 526,91 miliar dari volume 83,21 juta saham.

Pergerakan saham selanjutnya akan berkaitan dengan kemampuan BCA mempertahankan kredit korporasi, pertumbuhan CASA, dan kualitas pembiayaan. Ketiga faktor itu juga akan menentukan sejauh mana tekanan margin dapat dikelola pada periode berikutnya.

Baca Juga